Mon. Dec 6th, 2021

Apakah UEFA Conference League Akan Jadi Solusi?

Apakah UEFA Conference League Akan Jadi Solusi?

APAKAH UEFA CONFERENCE LEAGUE AKAN JADI SOLUSI?

Oleh : Fadli Rais (Redaktur marjinbola.com)

Pernah anda berfikir perengkuh Liga Bosnia dan Herzegovina FK Sloboda Tuzla tampil di UEFA Europa League tanpa kualifikasi? Mungkinkah negara-negara UEFA dengan peringkat koefisien rendah tidak bisa tampil regular di liga malam Jumat?

Kisah-kisah heroik di lapangan hijau klub-klub dengan peringkat koefisen rendah akan menghiasi layar kaca. Klub-klub dengan nama asing di telinga akan tersaji di malam Jum’at berbarengan dengan Liga Europa. Pun, FK Sloboda Tuzla yang sedang diperkuat pemain Indonesia, Miftah Sani Anwar memungkinkan untuk tampil regular di kompetisi kasta kedua antar klub Eropa.

UEFA Europa Conference League (UECL) jadi ajang pertarungan terbaru bagi klub-klub dengan koefisen rendah di bawah EUFA. Dirumuskan sejak 2015 dimatangkan tiga tahun berikutnya dan akan dihelat pada musim 2021/2022.

Kompetisi kasta ketiga antar klub di Benua Biru akan diikuti oleh 184 kesebelasan dari 55 negara anggota EUFA. UECL juga akan dilimpahi 46 klub yang gagal dibabak play-off  UEFA Champion League (UCL) dan UEFA Europa League (UEL) sebanyak 46 klub.

Format kompetisi UECL mirip dengan dua kompetisi diatasnya. Berjuang di babak kualifikasi tiga kali dan satu babak play-off untuk mendapatkan satu tiket grup. Jangan lupa, peringkat negara UEFA pun memengaruhi setiap klub lolos ke babak utama.

Komposisi babak grup UECL sebanyak 32 tim terdiri dari 17 kesebelasan yang lolos dari babak kualifikasi, 5 kesebelasan dari babak play-off dan 10 kesebelasan yang gagal di play-off UEL. Peringkat pertama akan lolos otomatis ke babak 16 besar, sementara peringkat kedua akan menjalani pertandingan dengan klub peringkat ketiga dari kompetisi UEL (kasta kedua).

Lantas dimana keutungan pemenang UECL? Pemenang kompetisi ini akan mendapatkan slot di UEL saat klub tersebut tidak lolos ke Liga Champions berdasarkan liga domestik.

Gelaran kompetisi kasta ketiga oleh UEFA merupakan upaya untuk memberikan ruang terhadap klub-klub dengan peringkat negara koefisien rendah. Liga-liga yang sering menjadi langganan tampil di kasta pertama (UCL) dan kasta kedua (UEL) akan memiliki tantangan untuk tampil maksimal untuk mendapatkan juara. Sehingga bagi klub-klub langganan play-off di UCL maupun UEL masih memiliki kesempatan untuk tampil di kompetisi antar kesebelasan di negara-negara Eropa.

Terobosan UEFA untuk memberikan kesempatan pada tim-tim di negara anggota UEFA dengan koefisien rendah tampil melawan klub negara lain. Tujuan gelaran UECL memiliki dampak pada pundi-pundi rupiah yang akan didapatkan oleh penyelenggara (red: UEFA).

Kepentingan finansial penyelenggara ini pernah mendapatkan kritik dari salah satu gelandang timnas Jerman Toni Kroos. “Pada akhirnya, sebagai pemain kami hanyalah boneka untuk semua hal baru yang diciptakan oleh FIFA dan EUFA,” ungkap pemain Real Madrid saat mengomentari National UEFA League.  

Meski kritik itu ditujukan untuk perhelatan liga antar negara di Benua Biru, namun kritik demikian menjadi alarm kepada penyelenggara. Pemain seharusnya memiliki waktu untuk melakukan recovery dan bukan sekedar “robot” yang bisa diatur untuk mengikuti setiap kompetisi yang dibuat untuk kepentingan finansial tanpa memikirkan kondisi psikologi pemain.

Pro dan kontra terhadap gelaran inovasi muncul sebagai bentuk dialektika terhadap kompetisi yang akan dihelat mulai musim depan. Klub-klub yang akan menjalani kompetisi kasta ketiga sudah seharusnya mempersiapkan secara mental dan finansial tampil di UECL.