Fri. Apr 16th, 2021

Analisa Juventus vs FC Porto: Ada Celah dalam Blok Rendah

Analisa Juventus vs FC Porto: Ada Celah dalam Blok Rendah

kredit gambar : gilabola.com

Oleh: Rais (Penulis marjinbola.com)

Dwi gol Federico Chiesa dan sebiji gol Adrien Rabiot tak mampu membawa Juventus ke perempat final Liga Champion 2020/2021. Penyebabnya, dua gol Sergio Oliveira di Stadion Juventus dan kekalahan 2-1 kala Si Nyonya Tua bertandang ke Estadio Do Dragado menjadikan agregat 4-4. FC Porto berhak maju ke babak 8 besar karena unggul jumlah gol tandang.

Dalam pertandingan yang berlangsung selama 120 menit. Andrea Pirlo menggunakan formasi 4-4-2. Menempatkan tiga bek dan satu wing-back, Leonardo Bonucci, Alex Sandro dan Merih Demiral. Fungsi Juan Cuadrado sebagai wing-back kanan. Di tengah, sang allenatore mempercaykan kepada Adrien Rabiot, Arthur Melo, Aaorn Ramsey, dan Federico Chiesa diplot sebagai winger kiri. Cristian Ronaldo dan Alvaro Moratta diturunkan sejak awal sebagai penyerang.

Bermodal kemenangan 2-1 di laga kandang, Sergio Conceicao memakai formasi 4-4-2 seperti di leg pertama. Menaruh pemain berpengalaman bertahan Pepe berduet dengan Wilson Manafa, Chancel Mbemba dan Zaidu Sanusi. Sementara Jesus Corona, Sergio Oliveira, Mateus Uribe dan Otavio didapuk sebagai kreator di lini tengah dengan dua striker Mehdi Taremi dan Moussa Marega.

Kredit foto: whoscored.com

Strategi yang dilakukan oleh pelatih FC Porto adalah menggunakan menggunakan blok rendah (low block). Faktornya, kualitas penyerang yang dimiliki Si Nyonya Tua berbahaya dan akan bermain ngotot untuk mengejar defisit 1 gol saat kalah di leg pertama.

Blok rendah (low block) merupakan strategi yang membentuk pertahanan yang terdiri dari dua-empat full back. Dalam posisi bertahan, pemain membentuk blok rendah guna untuk membatasi ruang yang akan dieksploitasi.

Blok rendah dilakukan oleh Canceicao  dengan menugaskan keempat pemain  belakang (Wilson Manafa, Chancel Mbemba, Pepe dan Zaidu Sanusi) dan pemain tengah melakukan zonal compact agar ruang antar lini tidak lepas dari penjagaan.

Menutup ruang antar lini dalam taktik blok rendah agar pemain depan dan pemain depan dan tengah lawan sulit mencari ruang tembak dan minim akselerasi di ruang antar lini. Upaya tersebut dialihkan dengan memberikan umpan ke sisi kanan/kiri pertahan lawan agar bisa melakukan umpan lambung.

FC Porto dengan mudah mengatisipasi upaya tersebut melalui full back yang sudah menunggu di kotak pinalti. Blok rendah merupakan cara ampuh meredam serangan tim lawan dengan gaya pertahanan tinggi dan counter-pressing yang ketat.

Blok rendah juga harus diikuti dengan mid low. Mengapa demikian? Jika pertahanan rendahtidak diikuti mid low akan membuat ruang antar lini menganga, seperti dalam gambar di bawah ini.

Kredit Foto : Youtube :Jafetinho Football

Menggunakan formasi 3-5-2 saat Bianconeri melakukan penyerangan, The Dragon merubah bentuk formasi bertahan menjadi 6-3-1 sehingga pemain memenuhi seluruh area petahanan.   Untuk urusan sisi sayap pertahanan yang diisi oleh Jesus Corona dan sisi kiri Otavio. Hal ini dilakukan untuk mengeliminasi tusukan wing Federicho Cheisa dan Juan Cuadrado. Sementara tiga pemain tengah diisi oleh Oliveira, Mateus Uribe dan Mehdi Taremi dengan menyisakan pemain depan Moussa Marega.

Klub yang menggunakan blok rendah sebagai cara untuk memenangkan pertandingan membutuhkan strategi menyerang komprehensif. Pilihannya, serangan balik cepat yang tak mengubah struktur pertahanan yang telah dibuat. Memaksimalkan peran dua striker Taremi dan Maregaserta gelandang tengah Oliviera dan Uribe atau Oliviera dan Jesus Corona untuk melakukan transisi di sayap.

Dwi Gol Sergio Oliveira

Blok rendah yang diterapkan  oleh klub Azuis e Brancos  terlihat dalam proses gol pertama di menit 19 melalui penalti oleh Sergio Oliviera. Merih Demiral melakukan pelanggaran yang tidak perlu terhadap Taremi setelah mendapatkan cut-back dari Marega. Pola penyerangan Porto pun sebagaimana tim yang menerapkan garis pertahanan rendah memiliki dimulai dari gelandang cum wing Jesus Corona. Umpan ke Mehdi Tarim (menjadi second striker) lalu mengumpan ke sisi kiri pertahanan Juventus lalu cut back ke arah kotak penalti saat Mehdi Tarim melakukan coming from behind.

Kredit foto : Youtube FootnessHD

Mengapa pemain asal Iran itu tidak perlu dilanggar? Dalam kotak penalti Juventus kekuatan berimbang karena 3v3. Sehingga Demiral bisa melakukan penjagaan agar tidak melakukan tembakan ke arah gawang atau mengumpang ke belakang yang sudah di jaga oleh mieldfilder Juventus.

Sedangkan gol kedua yang dicetak oleh Sergio Oliveira melalui tendangan bebas terukur dan menyusur tanah sangat ciamik. Dalam pertandingan ini, pemain asala Portugal tersebut mencatatkan dua gol dari tiga kali tendangan ke arah gawang.

Gol tersebut membuka tabir komunikasi antara “pagar betis” dengan penjaga gawang Signora Omicidi,  Wojciech Szczęsny tidak berjalan. Pasalnya,  border terlalu longgar untuk menahan laju tendangan. Kedua, tidak ada tambahan border dibelakang dengan gaya “rebahan” atau “hormat untuk paduka” seperti yang pernah dilakukan oleh Ivan Perisic, Brojovic, atau Kevin De Bruyne.

Kredit Foto: Youtube CR7 TV

Dalam pertandingan ini, Mehdi Taremi diusir dari lapangan setelah mendapatkan dua kartu kuning pada menit 59. Otomatis, sejak menit itu Porto bermain dengan 10 pemain. Sehingga memaksa untuk memainkan pertahanan hingga peluit panjang. Marega pun menjadi tumpuan penyerang seorang diri di depan dan 8 pemain lainnya bertahan.

Meski bertahan total, whosocred.com mencatat sisi kiri pertahanan Juventus menjadi titik penyerangan yang sering dilakukan sebanyak 41%, sementara melalui tengah 25% dan kiri 34%.  Counter attack yang dilakukan oleh FC Porto menciptakan situasi 2v1 antara Sanusi dan Otavio dengan Cuadrado .

Kredit Foto: Youtube CR7 TV

Ngotot Demi Kemenangan

La Vecchia Signora bermain menyerang sejak peluit awal laga ditiup. Selama 120 menit telah melakukan 31 tendangan dengan rincian 13 mengarah ke gawang, 11 di blok dan 7 tak mengarah  ke gawang yang dikawal Marchesin. Permainan di atas lapangan pun dikuasai Juventus dengan possession sebesar 68,5 % dengan 1047 sentuhan.

Kredit foto: whoscore.com

Upaya menekan itu berbuah hasil setelah 4 menit turun minum. Umpan Leonardo Bonucci dari lini tengah ke kotak pinalti berhasil dikonversi asis oleh Ronaldo untuk Chiesa. Saat melakukan umpan, pemain berusia 33 tahun itu tidak diberi gangguan oleh lini keduaFC Porto. Sehinnga bola diumpan ke Ronaldo lalu dikuasai dengan gangguan minim dari pemain belakang. Chiesa yang lepas dari jangkauan Jesus Corona merangsek ke tengah area pinalti tanpa kawalan. Tendangannya melesat ke kiri jala Marchesin, membuat skor sama kuat.

Meski tim asuhan Sergio Conceicao  menggunakan blok rendah, saat Ronaldo menerima umpan di kotak pinalti tidak ada gangguan yang berarti untuk menghentikan asisnya kepada Chiesa. Kejadian tersebut disebabkan jarak antara pertahanan dan pemain tengah yang menganga di kotak pinalti. Bentuk pertahanan pun belum sempurna sehingga terjadi 2v1 antara Ronaldo dan Chiesa dengan Mbemba.  Dalam klip tersebut, Chiesa juga memiliki kesempatan untuk memberikan asis kepada Aaron Ramsey.

Kredit foto : Youtube The Mask Gamers

Putra Enrico Cheisa itu kembali menggetarkan jala The Dragon di menit 63 setelah menerima umpan dari Cuadrado. Pada gol kedua mantan pemain Fiorentina, buah dari kejelian La Vespa dalam melihat ruang kosong di antara tumpukan pemain bertahan tim tamu. Sebelum melakukan sundulan, Chiesa mendapatkan kawalan dari Wilson Manafa. Namun, pressing yang yang tidak memengaruhi usaha Chiesa untuk menyundul bola dan langkah Manafa tertinggal dan tidak melakukan lompatan untuk mengganggu. Juventus unggul 2-1.

Kredit foto : Youtube Football Realm

Gol terakhir yang dicetak oleh Adrien Rabiot di menit 117 berkat sepak pojok Federico Bernardeschi. Rabiot membubuhkan namanya dipapan skor. Saat menyambut umpan dari pemain berusia 27, Rabiot dengan amat mudah melakukan lompatan karena tidak menerima gangguan dari pemain bertahan lawan.

Kredit foto: Youtube Football Realm

Selang tiga menit, wasit meniup peluit tanda berakhir pertandingan. Asa La Vecchia Signora untuk memiliki piala kuping besar terhenti di kandang. Tiga gol yang dilesatkan oleh Juventus tidak bisa dipandang sebelah mata, ada celah dalam blok rendah yang diterapkan The Dragon. Sergio Canceicao harus berbenah jika ingin timnya melaju hingga semifinal.

Kemenangan ini memberikan pemadangan suka digambarkan pelukan tim kepelatihan Porto kepada Sergio Canceicao. Adapun kekesalan tersorot kamera saat kaki Pavel Nedved “bersilaturahmi” dengan papan iklan dipinggir lapangan.