Mon. Dec 6th, 2021

Petualangan Jesse Marsch

Petualangan Jesse Marsch

Jesse Marcsh

Oleh : Rais (Redaktur Marjin Bola)

Tanganya memberi kode kepada pemain RB Salzburg yang tengah bersandar di loker. Nada bicaranya diatur sedemikian rupa, meledak di awal datar di tengah dan memotivasi di akhir. Di ujung bangku, Takumi Minamino dan Erling Haland menaruh perhatian secara seksama sembari mengelapi tubuh yang berlumur keringat. Aksinya di ruang ganti pemain terekam kamera, tersebar di kanal media sosial, dan memengaruhi hasil akhir pertandingan, meski kalah.  

——————-

Kalah di Anfield Stadium bersua dengan Liverpool dengan skor 4-3 bukan menjadi bahan olokan. Takumi Minamino dkk justru mendapat perhatian dari khalayak luas. Menembus pertahanan kawalan Van Djik dan menjebol gawang Alisson Becker bukan perkara mudah. Kalah di babak pertama 1-3 menyamakan kedudukan 3-3 dan kalah 4-3 oleh The Kop.

Rangkulan pria asal Amerika Selatan kepada sebelas pemain di akhri pertandingan bentuk penghargaan telah bekerja keras. Pelatih yang  memulai karir sebagai pesepak bola profesional di negara Paman Sam untuk tiga klub besar D.C. United, Chicago Fire  dan pensiun di Chivas USA.

Pada 2010 ia memutuskan untuk gantung sepatu dan mencicipi karir sebagai pelatih. Tak main-main, jabatan pertamanya menjadi asisten pelatih Timnas Amerika asuhan Bob Bradley. Meski di karir profesionalnya hanya mencatatkan dua caps internasional bersama Timnas, pengabdiaanya terhadap sepak bola dalam negeri tidak bisa diremehkan.

Usai menimba ilmu bersama Bob Bradley, ia pindah ke Montreal Impact. Karir menjadi manajer ia bubuhkan dalam portofolio kepelatihannya dengan durasi satu tahun selama kurun 2011-2012. Tak lama kemudian, pindah ke klub Princeton Tigers menjadi asisten manajer Robert J. Surace selama tiga musim. Tarikan pegasnya untuk berlanjut ke klub lain tak bisa ia tolak, New York Red Buls meminangnya sebagai manajer dengan durasi tiga tahun hingga 2018.

Menjadi manajer di klub yang berada di bawah naungan bender Red Bull membuka pintu untuk berpetualan ke benua biru. Juni 2018, pria kelahiran Racine, Wisconsin dipilih menjadi asisten pelatih Ralf Rangnick. Memainkan 52 pertandingan sembari “menimba ilmu taktik”.

Petualan Jesse Marsch dari 3 sosok pelatih (Bob Bradley, Robert J. Surace, dan Ralfh Ragnick) mampu ia padupadankan dalam kepalanya. Dari Bob Bradley belajar tentang pengalaman kepelatihan menangani timnas, Robert J. Surace mengajarkan kesabaran dan motivasi terhadap pemain, dan dari pelatih kelahiran Jerman menaruh detil-detil taktik.  

Untung tak bisa ditolak saat Marco Rose menerima pinangan Borussia Monchengladbach pada 2019. Kekosongan alenatore di tubuh RB Salzburg akhirnya diisi oleh Jesse Marcsh. Sanad kepelatihan dari Ralph Ragnick sebelumnya ada Julian Nagelsmann di Leipzig, Adi Hütter di Frankfurt, pendahulu Marsch, Marco Rose, yang sekarang melatih di Borussia Monchengladbach, dan Oliver Glasner di Wolfsburg.

Pengaruh Ralf Ragnick dan Bob Bradley

Dalam sebuah wawacara, Jesse Marsch diberi pertanyaan soal pelatih yang memberikan pengaruh taktik. Ia menjawab Ralph Ragnick dengan jawaban historis hingga pengaruh terhadap karir di dunia sepak bola.

“Ketika kami pertama kali bertemu di New York, ia mengajak saya untuk berbicara tentang ide sepak bola.  Konsep permainan yang ia usung berupa detail yang dia miliki. Bagi saya seorang pelatih asal USA, obrolan itu memacu imajinasi saya untuk berkembang.

Lantas Ralph Ragnick mengungkapkan kecintaanya terhadap permainan cepat sehingga dalam mengelola pola permainan bentuk detil-detil taktik sangat diperhatikan.

“Saya suka bermain sepak bola cepat, dan (Ralf Ragnick) mengajari hal-hal yang lebih banyak. Misalnya, tentang bagaimana mempersiapkan diri. Bagaimana, Anda bisa mencapai tempo itu di setiap momen dalam permainan,” ungkapnya.

Ragnick mengajarkan taktik, Bradley mengajari pembuktian. Pasalnya, mantan pelatih timnas Amerika Serikat itu memiliki kenangan buruk saat menukangi tim asal Inggris, Swansea. Media-media asal Inggris terkenal “keras” mengkritik pelatih yang memiliki performa buruk untuk tim yang ia tangani.

“Bob menginspirasi saya untuk memikirkan kemungkinan pindah ke Eropa. Ia juga bercerita tentang  media memperlakukannya [di Swansea]. Tantangan menjadi pelatih di benua biru “keras” dan saya merasa dalam beberapa hal, lebih mudah pergi ke suatu tempat yang berbicara bahasa berbeda karena mereka hampir lebih memaafkan ketika Anda membuat kesalahan,” ungkapnya.

Kemampuan Marcsh untuk melatih pemain yang lebih muda, menjanjikan, dan itu sesuai dengan filosofi Salzburg. Identitas tersebut menjadi kelamin akademi dan menemukan pemain muda usia di bawah 21 tahun untuk menjadi tumpuan RB Salzbrug. Memilih anak-anak muda menjadi tumpuan bukan tanpa alasan.

Kemudahan untuk menerapkan gaya bermain dan mendorong untuk tumbuh saat mereka menyesuaikan diri dengan kecepatan dan ketepatan di lapangan. Nama-nama jebolan klub asal Austria yang kini membela tim-tim besar seperti, Saido Mane, Nabby Keita (Liverpool)  Takumi Minamino (Southampton) Erling Haland  (Borussia Dortmund), Dayot Upamecano (RB Leipzieg), Hwang Hee-Chan (RB Leipzieg), dan beberapa pemain yang sedang menjadi incaran klub-klub seperti, Dominik S, Zambia Patson Daka, dan Enock Mwepu.

Filosofi yang dianut oleh Marsch selaras dengan gaya sepak bola pembangunan Red Bull ala Ralph Ragnick. Pola taktikal mirip dengan gegenpressing yang diterapkan oleh Jurgen Klop dan high line ala Thomas Tuchel saat menangani PSG dan Chelsea. Pola kolektivisme dalam umpan pendek untuk menguasai lapangan area double pivot. Fokus transisi saat kehilangan bola memilih untuk melakukan counter pressing dari pertama kehilangan bola. Sehingga formasi yang sering digunakan oleh Marsch adalah 4-2-2-2, 4-3-1-2, 5-2-1-2 dan tergantung pada struktur lawan tetapi dengan intensitas dan prinsip yang sama. pertahanan / saat menekan.

Mengapa taktik Jesse Marsch sangat menekan pada ball-possesion dan transisi?  Penguatan pola pertahanan sangat berorientasi pada bola kolektivisme pemain. Sehingga alur penyerangan yang di mulai dari pertahanan. Penguasaan ruang permainan menggunakan struktur agar pemain proaktif dan meskipun Anda tidak mengontrol kepemilikan, Anda masih dapat memutuskan / mengontrol permainan dengan memaksa lawan masuk ke ruang yang Anda inginkan untuk mereka mainkan.

Kemampuan yang dimiliki oleh pemain-pemain di bawah arahan Jesse Marcsh dituntu untuk aspek intelektual, taktis (pengambilan keputusan) dan fisik agar beradaptasi dengan gaya sepak bola ala Ralph Ragnick.

Talenta Harus Didukung Mental

Penekanan Jesse Marsch pada bukan talenta semata, tapi mental juga. Dalam wawancara dengan “The Coach Voice” terkait pengaruh Ralf Ragnick terhadap dirinya, salah satunya adaalah memperhatikan faktor-faktor detail-detail dalam sepak bola. Ia terapkan dalam kondisi tim dengan bentuk.

“Saya sangat memperhatikan para pemain kami, dalam latihan, di kabin, di kantin. Seberapa baik Anda mengenal diri sendiri? Seberapa baik mereka mendukung satu sama lain? Seberapa keras Anda bekerja untuk satu sama lain di lapangan? Perkembangan apa yang telah dilakukan semua orang?”

Untuk memenangkan gelar di Liga Austria, Jesse Marcsh menekankan pada tekad seluruh pemain. Ia tidak terpusat pada pemain-pemain, seperti Erling Haland ketika dilego ke Borussia Dortmund, Takumi Minamino ke Liverpool atau Hwang Hee-Can ke (RB Leipzieg).

“Jika kami ingin memenangkan gelar, kami harus memiliki tekad yang tak ada habisnya,”

Tipikal pria kelahiran Winconsin sebagai pelancong dengan keinginan mengetahui budaya-budaya tempat yang ia singgahi. Tak tanggung-tanggung tekadnya hijrah dari USA ke Negeri Bavaria memboyong keluarga agar merasakan atmosfer dan pengenalan bahasa baru.

Pelancong bukan sekadar pelancong yang ingin bersenang-senang saat melawat ke kiblat sepak bola. Melainkan keluar dari zona nyaman dan merasakan kegagalan.

“Keluar dari zona nyaman Anda dan menjadi rentan: Itulah satu-satunya cara untuk tumbuh,” kata Marsch. “Ini satu-satunya cara untuk menjadi lebih baik: membuat kesalahan, belajar dari kesalahan. Jika saya akan membicarakannya, maka saya pasti harus menjadi contoh terbaik untuk itu.”

——

Video Jesse Marcsh di ruang ganti saat menghadapi Liverpool dua tahun silam tampaknya menjadi sedikit gambaran karakter kuat sebagai pemimpin. Meski sempat diisukan akan berlabuh ke Signal Iduna Park setelah masa jabatan Lucian Pavre tidak diperpanjang dan pilihan jatuh terhadap Marco Rose.

Menanti petualangan pelatih asal USA yang meninggalkan zona nyaman atau justru terjebak ?