Fri. Apr 16th, 2021

Adu Konsistensi Chelsea dan Manchester United

MU VS Chlesea

Oleh : Rais (Redaktur marjinbola.com)

Kedatangan Thomas Tuchel ke Stamfor Bridge jadi angin segar bagi The Blues. Dalam 8 pertandingan di bawah kepemimpinannya belum pernah mengalami kekalahan. Kepercayaan diri Cesar Azpilicueta dkk juga sedang meningkat pasca kemenangan melawan Atletico Madrid di leg pertama 16 besar Liga Champions. Di EPL dalam 5 pertandingan terakhir timnya berhasil memenangkan 4 pertandingan dan 1 hasil imbang.

Lawan Chelsea esok minggu (28/2021) juga sedang diselimuti kebahagian pasca lolos dari babak 32 besar Liga Eropa EUFAr Kemenangan 4-0 atas Real Sociedad mengantarkan Manchester Unitedbersua dengan AC Milan di babak 16 besar. Namun dalam lima pertandingan terakhir di EPL, Harry Maguiere mengalami 2 kali imbang dan tiga kali imbang.

Pertemuan MU dan Chelsea di pekang 26 menyajikan tontonan baru pertemuan Tuchel dan Ole, saat pelatih berkebangsaan Jerman itu  menangani Paris Saint-Germain, memetik dua kemenangan atas Solskjaer. Sementara itu, manajer Norwegia juga dua kali menang atas juru taktik asal Jerman itu.  The Baby Face Assassin menaklukkan PSG 1-2 dan 1-3 saat melakukan lawatan ke markas ibu kota Prancis. Salah satu kemenangannya saat comeback dari ketertinggalan 0-2 di babak 16 besar Liga Champions musim 2018/2019.

Adu Taktik Tuchel vs Ole

Semua kemenangan Ole atas Tuchel diraih saat menjalani laga tandang. Bisa lanjut di Chelsea vs MU? Mari kita bedah  taktik Thomas Tuchel dan Ole Gunnar Solkjaer

Pola permainan yang digunakan oleh Tuchel seperti diulas oleh Ruang Taktik disesuaikan dengan lawan yang akan dihadapi. Formasi 3-2-4-1 atau 3-4-2-1 merupakan skema perubahan dari 4-2-3-1. Skema tak asing bagi dua wing-back Chelsea, Cesare Azpilicueta dan Marcos Alonso yang pernah dilatih oleh Antonio Conte dengan skema 3-5-2.

Tiga center-back Chelsea akan diisi oleh Kurt Zouma, Andreas Christensen, Antonio Rudiger sedangkan wing-back akan diisi oleh Cesar Azpilicueta, Marcos Alonso atau  Ben Chilwell. Dalam posisi attacking dua wing-back Chelsea akan iku menyerang untuk lewat sayap. Lalu posisi center-back  akan melebar dibantu depp-lying mieldfielder turun membentuk formasi 3 bek. Saat menghadapi serangan balik, counter-pressing akan dilakukan di sisi sayap kanan dan kiri oleh kedua wing-back untuk menahan laju serangan sehingga tim lawan melakukan operan ke belakang.

Menurut Ruang Taktik, kemampuan Tuchel dalam memanfaatkan double pivot untuk mengalirkan bola dari center-back ke depan atau sayap sayap kanan maupun kiri. Jorginho, Mateo Kovacic serta N’golo Kante menjadi pilihan utama pelatih berusia 47 tahun untuk mengejawantahkan taktiknya itu. Sebelum hijrah ke The Blues, pemain-pemain double pivot dengan tipikal deep-lying mieldfilder seperti Marco Veratti, Leandro Paredes (PSG), Ilkay Gundogan, Rapahael Guereirro, serta Gonzal Castro.

Tuchel dengan double pivot berperan sebagai deep-lying mieldfilder yang memiliki posisi  di depan center-back. Melakukan passing ke tengah maupun sayap. Dalam pola penyerangan, posisi ini akan melakukan pressing terhadap pemain lawan yang akan melakukan counter attack. Dalam strategi Tuchel, tugas melakukan counter press di mulai dari kehilangan bola sehingga posisi deeplying mieldflilder menjadi krusial untuk merusak upaya serangan balik lawan.

Kemampuan Tuchel menurut Ruang Taktik dalam menggunakan “double 10” menggunakan Kai Harvetz/Masson Mount sebagai double playmaker yang akan melakukan pergerakan secara free roam sementara Hakim Ziyech/Husson Odoi  akan melakukan okupasi di half space serta ruang antar lini.  Penggunaan half space di kiri maupun di kanan merupakan cara untuk melakukan penyerangan terhadap lawan yang terdapat gap antara centerback dan wing-back.

Sedangkan di lini serang, menurunkan Timo Werner dan Olivier Giroud akan menjadi duet penyerang dengan tipikal berbeda. Umpang-umpang lambung akan ditujukan kepada Giroud sebagai target man dan Timo Werner memerankan penyerang dengan pergerakan yang bebas.

Lalu bagaimanakah prediksi pola permainan yang akan dilancarkan oleh Ole Gunnar Solksjaer saat melawat ke Stanford Bridge pada Minggu (28/02) esok?

Hal yang harus diwaspadai oleh Ole dipertandingan esok minggu adalah pola counter press from the front yang dilakukan oleh Tuchel.  Ketika penyerang asuhannya kehilangan bola, melakukan pressing dengan dua penyerang serta menggunakan “double teen “ dan wing-back menekan di area sisi lapangan.  Hal ini dilakukan untuk menutupi ruang dan memblokir opsi passing. Pola ini akan menyulitkan gelandang lawan mengalirkan bola ke tengah maupun ke samping, opsi melakukan passing langsung ke depan akan mudah diantisipasi oleh double pivot maupun center back.

Membangun serangan dari belakang melalui dua center back  Hary Maguire, Axel Tuanzebe atau Victor Lindelof. Terdapat opsi untuk melakukan long pass ke pemain depan atan umpan pendek ke double pivot. Saat menyerang anak asuhan Ole akan membentuk pola 3-4-3 aatau 2-3-5 dengan asumsi wing-back kanan maupun kiri membantu penyerangan dan double- ivot  Paul Pogba dan Bruno Fernandez melakukan keseimbangan untuk opsi mengalihkan serangan.

Pola penyerangan Ole melalui dari belakang memudahkan anak asuhan Thomas Tuchel untuk melakukan penjagaan di depan area kotak penalti dan wing back. Pasalnya, taktik counter pressing akan menutup opsi passing sedangkan pilihannya adalah melakukan long ball. Taktik counter pressing from front akan dilakukan oleh Chelsea saat kehilangan bola. Reaksi dari Manchester United “mungkin” dengan 5-3-2 dengan memilih pemain-pemain depan dan wing back yang memiliki kecepatan untuk meredam taktik Tuchel.

Adu wing back antara Aaron Wan-Bissaka, Luke Shaw serta Marcos Alonso, Cesare Azpilicueta. Keempatnya memiliki insting untuk menyerang dan bertahan. Sementara dua gelandang serang Paul Pogba-Bruno Fernandes dan Hakim Ziyech/Masson Mount – Kai Harvezt akan menjadi kreator serangan. Tipikal pemain Chelsea dengan solo run dan umpan diagonal sedangkan pemain Manchester United mampu melakukan tendangan spekulasi dari luar kotak pinalti.

Upaya-upaya tendangan dari luar kotak pinalti perlu dilakukan oleh MU guna meminimalisir kebuntuan saat Chelsea melakukan penumpukkan pemain belakang. Pasalnya saat Ole bersua Tuchel peluang untuk melakukan shoot on goal dan shoot on target.

Rekor juga berpihak kepada Manchester United saat melawat ke kandang Chelsea dengan memenangi tiga lawatan terakhirnya di sana; 2-0 (babak kelima Piala FA) pada Februari 2019, kemudian 2-1 (16 besar Piala Liga) serta kemenangan pada partai Premier League di bulan Oktober tahun yang sama, sebelum menang 2-0 di Premier League pada Februari 2020. Rekor Chelsea saat bersua The Red Devils dengan 57 pertemuan mengantongi 18 kekalahan, 22 imbang dan 17 kalah.  Kemenangan di partai besok malam memengaruhi posisi kedua klub, Manchester United dari kejaran Leicester dan Chelsea dari Liverpool.

Lantas, siapakah yang mampu menjaga konsistensi, Thomas Tuchel atau Ole Gunnar Solkjaer? Mari kita tonton di MOLA TV  pukul 23.30  Minggu 28 Februari 2021.