Mon. Dec 6th, 2021

SI PENYIHIR MALAS BERNAMA RIQUELME

SI PENYIHIR MALAS BERNAMA RIQUELME

Juan Roman Riquelme

Oleh : Rais (Santri PP. At-Taharurriyah)

Pemain ini telah menikmati sepak bola secara maksimal. Berharap orang-orang juga senang bermain bersama dengannya. Seluruh kemampuannya ia curahkan untuk pendukung Boca Juniors dan tim nasional Argentina. Saat berkelana, memanjakan para penyerang Villarreal dan Barcelona.

Buku berjudul “The Cradle of The Stars” karangan Joey Kent mengisahkan pria bernama Johnny Clark yang menghasibkan waktu di depan komputer ketimbang keluar rumah untuk bergaul dengan temannya. Perihal pendidikan, terkadang bolos demi memuaskan dirinya untuk menggeluti keterampilan komputer. Johnny dalam novel itu digambarkan sebagai pemalas, namun tetap memiliki karakter yang hebat.

Kemampuannya di mata pelajaran matematika sangat terampil. Gambarannya saat mengalami kegagalan dalam pelajaran ini tak menyerah begitu saja. Lalu, kemampuannya ia gunakan saat warga mengetahui “Citizen Sim”, buatan seorang peretas terkenal yang pernah mematikan mesin pencari utama Google. Sistem buatan itu pernah mengintainya.

Johnny tak tinggal diam, ia mengerahkan kemampuan untuk melawan “Citizen Sim”. Uniknya ia lakukan tidak sekali saja. Melainkan lakukan berkali-kali bahkan sebelum “Citizen Sim” melakukan apa terhadapnya ia sudah mengerti.

Tak selesai di situ, Johnny bahkan mengerahkan kemampuan untuk membuat perangkat tandingan “Citizen Sim”. Selama berhari-hari, bangun saat pagi dengan pengetahuan dan perasaan yang mengganggu untuk menyatukan perangkat ini. Dia tahu bahwa kehilangan satu bagian dari teka-teki yang tengah ia bangun akan berakibat fatal. Sehingga pikirannya tak pernah berhenti untuk urusan itu. Hingga sampailah pada ujung pencarian di kelas matematika. Kode yang panjang untuk membuat mesin tandingan.

Karakter Johnny Clark dalam novel itu erat dengan karir Juan Roman Riquelme. Laki-laki yang kurus, pemalu, dan menderita kelelahan kronis pada usia dini yang disulap menjadi bintang yang kelak disebut oleh Horacio Pagiani sebagai penemu sepakbola kedua. Terlahir dari lingkungan kriminal, ditemukan oleh Argentinos Juniors – Akademi yang terletak La Paternal  Buenos Aires-  saat sedang memainkan si kulit bundar di lapangan tengah kota. Akademi sepakbola yang kelak dijuluki ‘The Cradle of the Stars’ karena memainkan peran paling penting dalam perkembangan karir Riquelme.

Gaya kreatif dan unik ditempatkan di antara lini tengah dan serangan membantu Boca Junior meraih 6 trofi medio 1998-2001.  Gerakan, kontrol, dan kemahirannya membuat para penggemar kagum. Capaian di Les Xeneizes mencapai 44 gol dalam 194 pertandingan dalam periode pertamanya di Boca antara 1996 dan 2002. Bagi klub yang bermarkas di Stadion Alberto J. Armando (La Bombonera) sudah layak dibuatkan patung guna mengenang kejayaanya.

Kelihaiannya menjadi playmaker klasik nomor 10 dalam memainkan tempo dan mengolah si kulit bundar dengan ciamik khas tarian tango. Ia menjadi antidot sepakbola modern yang menuhankan kecepatan, sementara dirinya menaruh permainan pada kreativitas yang luar biasa.

Nomor 10 bagi pemain berjuluk “Si Penyihir Malas” tak melulu mengelabui pertahanan lawan dengan  kecepatannya menggiring bola, mendrible, mencetak gol seperti Messi atau menerima umpan terobosan.” Lagi-lagi, sebagai playmaker klasik antidot dari Lionel Messi sebagai representasi sepakbola modern. Kemampuan mengolah si kulit bundar yang ciamik sejalan dengan memanfaatkan tendangan bebas dan pojok guna membuka peluang bagi rekan satu timnnya.

Kemampuan bermain Riquelme bagi Jorge Valdano diungkapkan dalam seubah kata. “Jika kita harus melakukan perjalanan dari A ke B, kebanyakan dari kita mengambil jalan raya enam jalur dan sampai di sana secepat mungkin. Riquelme akan memilih jalan pegunungan yang berkelok-kelok, rute pemandangan yang memakan waktu enam jam, bukan dua jam,”

PERJALAN KARIR JUAN ROMAN RIQUELME
PERJALAN KARIR JUAN ROMAN RIQUELME

Pelabuhan Baru di Benua Biru

Pidah ke Barcelona justru performanya menurun. Pria kelahiran 24 Juni 1978 dijuliki “pecho frío” yang artinya “dada dingin”. Ungkapan  itu merupakan penghinaan ditujukan kepada kuda yang tidak mau menarik kereta yang memiliki muatan berat. Frasa ini sering digunakan sepakbola Amerika Selatan untuk menggambarkan pemain yang hilang saat pertandingan besar atau gagal memberikan kesan berusaha keras.

Ungkapan permisif “pecho frio” bertentangan dengan pendapat mantan Pelatih Argentia, Cesar Luis Menotti “Sejak kapan bermain sepakbola membutuhkan pemainnya untuk berlari terus-menerus?”. Artinya, bermain si kulit bundar tidak melulu lari dari ujung kotak penalti lawan ke pertahanan tim sendiri.  

Pasalnya, sebelum hijrah ke klub yang bermarkas di Stadion Camp Nou, Riquelme bermain sebagai playmaker dialihkan ke sayap oleh pelatih Louis Van Gaal. “Si Penyihir Malas” tak tinggal diam dan ruang ganti Blaugrana pun panas. Ia tak kerasan dengan sentuhan taktik Si Iron Tulip, sehingga selama berkarir di Catalan hanya mebubuhkan 42 pertandingan dengan jumlah 6 gol serta 9 asis.

Bukan Juan Roman Riquelme namanya, jika hanya berdiam diri saat karirnya sedang menurun. Sebagaimana Johnny Clark dalam novel “The Cradle of Stars” yang berjibaku dengan angka-angka untuk menemukan kode yang panjang. Spirit “Si Penyihir Malas” berusaha menaikkan performanya kembali saat dipinjamkan ke Villareal.

Pasca kepindahannya ke El Submarino Amarillo, Riquelme mendapatkan kecemerlangannya kembali. Bersama Manuel Pellegrini dan Diego Forlan,  klub yang bermarkas di Estadio de la Ceramamica finis ke-3 pada akhir musim La Liga 2004-05. Lalu pemain asal Argentina itu dianugerahi gelar pemain paling artistik oleh surat kabar Spanyol terkemuka, Marca dan dinominasikan untuk penghargaan pemain terbaik dunia versi FIFA 2005.

Dikancah Eorpa, Villareal sempat menghentak hingga semifinal UEFA Champions League melawan Arsenal. Hampir lolos ke final, klub asuhan Manuel Pelegrini kalah 1-0 pada leg pertama. Pada leg kedua, The Yellow Submarines bisa saja memaksakan laga hingga babak tambahan, tetapi penalti Riquelme di menit 90 gagal.

Riquelme pun memberikan pernyataan yang menggambarkan perasaanya kala itu “ (pertandingan) itu adalah salah satu kenangan paling menyedihkan dalam karir (sepakbola) saya dan akan selalu saya ingat. Saya pikir kami lebih kuat dari Arsenal dan pantas bermain di final,” kenangnya.

Petualang di Benua Biru  berhasil membawa klub yang tak diperhitungkan mendapatkan hadiah gelar juara Piala Intertoto pada 2004. Ini menjadi satu-satunya trofi koleksinya di Eropa. Kecermelangannya bersama Vilareal membuatnya sempat bolak-balik Boca Junior-Villareal. Namun, 26 Januari 2015 “Si Penyihir Pemalas” itu memutuskan pensiun di klub masa kecilnya, Argentinos Juniors.  

Kegigihan dan kemampuan Riquelme bagi Horacio Pagani, dikatakan sebagai penemu kedua sepak bola. Pertama, Inggris yang menemukannya, lalu Juan Román Riquelme mempraktikkannya,’ tuturnya saat diwawancarai oleh Tyc Sport. Upayanya untuk terus belajar, dalam philomath digambarkan sebagai pesepakbola yang memperkuat kebesaran tetapi kekurangannya tidak selalu melemahkan klaim yang sama,” tulis Marcela Mora y Araujo.

Juan Roman Riquelme tetaplah penyihir malas yang sedang berdiri di atas lapangan hijau sebagaimana Johnly Clark di depan komputer.  Anggapan orang lain tak memudarkan kemampuan uniknya. Ia akan memberikan segudang kemampuannya karena cinta bukan tekanan.