Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Ekonomi Bola Sepak (1)

3 min read

kredit foto : goodreads.com

Oleh : Rais (Mahasiswa UIN Walisongo)

“Menghadapi gelombang soccernomics sebagai ujian sepak bola di tinjau dari sudut prisma ekonomi dan data statistik. Hal ini berkebalikan dengan kebanyakan fans percaya tentang permainan dan bagaimana tim sepak bola profesional harus beroperasi,” tulis Globe and Mail Kanada

Buku karya Simon Kuper  dan Stefan Szymanski berjudul Soccernomics mengulas si kulit bundar yang memiliki unsur sosio-historis dengan masyarakat Britania Raya. Meski demikian, genderang perekonomian di atas lapangan sebagai ciri khas modernitas persepakbolaan justru membuat Inggris dengan Liganya disegani.

Mengutip William McGregor yang melihat sepak bola  Inggris sedang mengambil ritme bisnis. Meski ia tak setuju bahwa sepak bola bukan bisnis melainkan sudah di awali oleh Negeri Ratu Elizabeth sejak 1888.

“Aku bisa melakukan bisnis dengan orang bodoh,” katanya. Lalu ia melanjutkan, aku bisa melakukan bisnis dengan penjahat. Tapi aku tidak bisa melakukan bisnis dengan orang bodoh yang ingin menjadi penjahat. (hal 49)

Ungkapan ini merupakan seruan sarakasme terhadap industri sepak bola yang semakin hari tidak dapat di terima oleh nalar. Relevansinya harga transfer yang jor-joran  untuk pemain-pemain di Liga Inggris.  Nama-nama pemain dengan nilai beli selangit seperti Virgil Van Djik, Ederson Moraes, Ighalo, dsb.

Atau transfer Neymar dari Barcelona ke PSG yang bikin kita geleng-geleng kepala. Setelah mega transfer Bale, Cristiano Ronaldo, dan Kaka dari klub asal ke Los Galaticos.  Bagi klub di luar daratan benua biru munngkin hanya bisa dilakukan oleh klub-klub asal Negeri Tirai Bambu.

Soccer is not merely a small business. It’s also a bad one. Until very recently, and to some degree still today, anyone who spent any time inside soccer soon discovered that just as oil was part of the oil business, stupidity was part of the soccer business. (hal 52)

Mengapa sepak bola sangat jor-jor an ? Sebab, ia bukan sekadar usaha kecil, melainkan usaha yang sama seperti pebisnis minyak. Hari ini kita disuguhi taipan-taipan dari Gulf Gold Council mendarat ke Benua Biru demi investasi di sebuh klub.  Sebut saja, Machester City dan PSG yang membangun fondasi klub dengan guyuran air hitam. Prestasi dan ketenaran lah yang di dapat secara instan. Bukan begitu ?

Adanya kemampuan finansial sepak bola inilah yang mengajak setiap insan yang terlibat untuk lebih memahami bisnis yang lebih baik (red: sepak bola). Peter Kenyon yang kala itu menjabat Direktur Ekskutif Umbro Apparel mengundang beberapa tamu untuk menonton pertandingan Eropa di Chelsea. Klub yang akan dia jalani beberapa tahun kemudian. Setelah pertandingan, Kenyon mengajak tamunya makan malam.

Ia mengenang bagaimana industri olahraga biasa memperlakukan klub sepak bola. Sebelum tahun 1980-an, klub besar Inggris, biasa membayar perusahaan seperti Umbro untuk memasok pakaian mereka.

Ini jelas iklan hebat bagi pembuat peralatan untuk memiliki beberapa pemain terbaik Inggris berlarian dengan pakaian mereka, namun klub belum memikirkannya. Jadi, perusahaan pakaian jadi (sportswear) biasa di bayar untuk mengiklankan diri mereka sendiri.

Sepak bola bisa di bilang  bisnis yang menyedihkan,” (soccer is a bad bisnis) kata Bjorn Johansson, yang mengelola perusahaan Headhunting di Zurich Swiss. Seperti teman-temannya dalam pengayuan. Johansson tidak pernah mengkonsultasikan kepada klub yang mencari manajer. Sebagai gantinya, sebuah klub biasanya memilih orangnya berdasarkan faktor-faktor.

Seluruh manager / pelatih hampir semua merupakan mantan pemain professional, dan hampir selalu berkulit putih. Klub tidak akan dinyatakan salah terlalu banyak, ketika mampu mencari manager dengan profil demikian.

Menjadi manajer tidak memerlukan profil yang menteren seperti Diego Maradona tahu lebih banyak tentang segala pertandingan daripada pada Jose Mourinho ? Tapi The Special One memiliki kepiawaian menjadi joki bagi anak asuhnya untuk menukangi pertandingan. Klub-klub yang ia tangani minimal pernah menggengam juara di tinggkat Eropa.

Bagi kebanyak orang Mourinho tak pernah tercatat sebagai pemain di klub menteren seperti Carlo Ancelotti. Namun, rekor lah bicara. hampir tidak ada sama sekali sebagai pemain, ada yang menjawab,

“Saya tidak melihat hubungannya. Dokter gigi saya adalah yang terbaik di dunia, namun dia tidak pernah mengalami sakit gigi yang sangat buruk”tuturnya. Saat di tanya mengapa pemain yang gagal sering menjadi pelatih yang baik, Mourinho mengatakan. “Lebih banyak waktu untuk belajar” (hal 58)

Kini bisnis sepak bola tak hanya mammpu memberikan masukan bagi setiap orang yang terlibat.  Di dalamnya ada perputaran uang sesuai piramida yang telah dijalankan. Atas nama soccernomics di rancang agar mampu menundukkan penari-penari sepak bola dan tunduk pada sistem. Tak ada suara sumbang saat permasalahan melanda.



Judul Buku : Soccernomics

Penulis          : Simon Kuper dan Stefan Szymanski

Tahun terbit   : 2014

Penenerbit      : Nation Book New York

Cetakan & Tebal : 1 & 464 Halaman

Peresensi         : Rais



Baca lainnya