Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Siapa Setelah Bali United ?

4 min read

Oleh : Rais (mahasiswa UIN Walisongo)

Bali United  menjadi klub ke dua di Benua Kuning yang melantai di bursa saham. Setelah sebelumnya klub asal China, Ghuangzou Evergrande terlebih dahulu.

Berbendera PT. Bali Bintang Sejahtera, Tbk dengan kode saham emiten BOLA di Bursa Efek Indonesia.   Intial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham perdana, perseroan mendapatkan dana segar sebanyak Rp. 350 miliar.   

Pelepasan saham Klub asal Pulau Dewata dihelat di Hotel Inna Heritage, Denpasar sejak Senin pekan lalu (10/6) hingga Rabu (13/6). Dihadiri Plt Ketua PSSI Iwan Budianto, Sekjen PSSI Ratu Tisha, Dirut. PT Bintang Bali Sejahtera Pieter Tanuri, Pelatih Bali United Stefano Teco Cugurra, CEO Bali United, Yabes Tanuri, dan enam pemain Bali United.

Pieter Tanuri menjadi orang yang paling disorot atas keberhasilan klub kontestan Shopee Liga 1 pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Bos Achiles itu awalnya underestimate saat berencana membawa klub usia jagung melantai di bursa saham. Namun, kenyataan berbicara lain. Saat dikenalkan kepada publik sangat antusias.  

“Terus terang saya sendiri awalnya sempat underestimate, tapi ternyata setelah dibuka penawaran ke publik, responsnya bagus sekali. Saya terharu sekaligus bangga mengetahui ada orang-orang biasa membeli walau hanya 1 lot saham. Ada dosen, ada office boy, guru, bahkan ada anak kecil yang memecahkan celengan untuk membeli,” kata pria  alumnus  Universitas Trisakti.  

Klub yang berdiri tiga tahun lalu,  menunjukkan geliatnya melalui PT. Bintang Bali Sejahtera. Ia memiliki usaha perdagangan umum dan jasa melalui PT Kreasi Karya Bangsa. PT Radio Swara Bukit Indah memiliki usaha penyiaran radio. Sementara dua lainnya, PT Bali Boga Sejahtera dan PT. IOG Indonesia Sejahtera bergerak dibidang jasa boga, restoran, dan aktivitas olahraga.  

Menjadi klub yang go public tentu menjadi tantangan bagi pengelola sepakbola Indonesia. Sekjen PSSI Ratu Tisha menilai bahwa Bali United tak perlu khawatir atas permasalahan jadwal dan wasit. Musababnya, kedua problem tersebut menjadi langganan persepakbolaan kita.  

“Soal jadwal, kalau mengikuti perkembangan dari tahun ke tahun, perubahan-perubahan itu toleransinya di bawah 10 persen dari area jadwal yang ada. Untuk tahun ini, dari beberapa pekan, hanya ada satu pergeseran dan itu pun karena tim nasional,” ujar Ratu Tisha.  

Perwasitan juga menjadi permasalahan setelah musim lalu diungkap nama-nama wasit yang terlibat dalam skandal mafia. Tentu akan berpengaruh terhadap naik turunya saham Bali United.

Soal wasit, kami juga berbenah dengan membentuk Badan Independen Wasit, yang direncanakan bisa bekerja musim ini. Jadi, saya rasa hal seperti itu tidak perlu dikhawatirkan. Ke depan, saya rasa akan lebih baik”.

Geliat klub yang bermarkas di Stadion I Wayan Dipta tak sendirian melantai di arena BEI. Digadang-gadang beberapa klub bola tanah air akan melantai di bursa saham Indonesia. Arema Cronous, Persija dan Persib. Ketiga klub tersebut  memiliki sejarah panjang dalam persepakbolaan Indonesia.    “Arema sudah kami temui sebelum libur lebaran kemarin. Nanti baru Persija sama Persib,” ungkap  Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna

Jadi Berkah atau Musibah ? 

Paper berjudul How do stocks of listed football clubs react to the sportily performance of these football clubs? A case study for European listed football clubs karya Frank van Gils menuturkan klub sepakbola bagian dari olahraga paling kompetitif di dunia mengharuskan setiap klub mandiri secara pendanaan (finansial). Keuangan yang mumpuni membuat setiap klub bisa berinvestasi untuk klub.  

Frank menambahkan, melalui perusahaan go public, klub juga akan banyak menerima dana segar dari investor guna pengembangan secara internal. Mulai dari fasilitas klub, regenerasi, hingga pembelian pemain sesuai dengan keinginan pelatih. Nilai positif klub menanamkan saham di bursa saham adalan demikian.  

Tak hanya persoalan lapangan an sich. Kala klub sepakbola telah memutuskan untuk go public. Harus meamahami bahwa reputasi klub tersebut sangat berpengaruh terhadap respon pasar yang bisa menjadi faktor naik turunya harga saha.

Jajaran manajemen pun seharusnya lebih produktif dan mengetahui posisi pasar sehingga dalam melakukan keputusan klub tiberdampak secara signifikan.  

Suporter juga harus dilibatkan dalam kepemilikan saham ini. Mengingat narasi “fanatisme”  dihadapan kapitalisme tak ayal hanya menjadi pasar semata. Kalaupun kita sadar lalu mengelola keberadaan pendukung fanatik terlibat dalam keputusan klub. Menjadi langkah nyata “menang ku sanjung kalau ku dukung”.  

Nilai suporter memiliki sekian prosentasi saham klub bukan sekedar transaksional semata. Ia menjadi bagian integral dalam lingkaran sepakbola. Bak manusia tanpa udara, pun kesebelasan akan tersengal nafasnya kala suporternya duduk manis sembari swa foto di tribun.  

Menjadi go public dan melantai di bursa saham tak hanya membawa berkah saja. Perlu diketahui saham sangat dipengaruhi oleh iklim kompetisi. Investor tentu akan tertarik dengan keadaan kompetisi yang sesuai dengan jadwal dan pengadil di rumput hijau sesuai dengan tugasnya.  

Manajemen juga harus siap dengan segala konsekuesi transparasi terhadap publik. Sudah tak zamannya kucing-kucingan keuangan klub dengan suporter. Atau masih main sembunyi nilai kontrak pemain yang bernilai setinggi langit.  

Lalu, setelah Bali United melantai di bursa saham. Klub mana yang akan melakukannya ? Sekadar melempar wacana ke media atau diam-diam klubnya sudah di merger ?