Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Sepak Bola dan Kehidupan Kita

4 min read

Oleh : Rais (Mahasiswa UIN Walisongo)

“Sepak bola lebih sekedar 90 menit di lapangan hijau” ungkap Presiden FIFA, Sepp Blater. Semangat inilah yang menuntun pengambilan tema jurnal  terkait sisi lain sepak bola yang dipahami publik sekedar mengumpan bola dari kaki ke kaki hingga memasukkan si kulit ke gawang bundar ke gawang lawan. Lalu merayakan gol sambil berlari ke arah suporter.

Persfektif mainstream dikalangan khalayak  umum. Sepak bola sekedar hiburan semata untuk mengentaskan dahaga olahraga ditengah kesibukan yang dilalui orang-orang di setiap harinya.  Mengolah raga kita yang menumbuhkah men sanna in corpora in sanna.

Nyatanya, sepak bola melampaui soal waktu bermain dan mengembalikan kebugaran tubuh semata. Di sana terdapat hal-hal yang menarik untuk dikaji secara mendalam. Baik ia kejadian di dalam lapangan maupun luar lapangan. Olahraga yang dianggap “merakyat” ini, mendapatkan tempat tersendiri dalam kajian literasi sepakbola.

Mulai dari pemain, pelatih, manajemen, hingga suporter ikut menambah ramai kegiatan olah bola. Kesemua lini memiliki fungsi masing-masing. Ia menjadi identitas olahraga yang ditemukan di negara Ratu Elizabeth. Dikemudian hari klub-klub nun jauh disana memiliki popularitas melebih pemimpin di negeri ini.

Sederet opini itulah yang menemani redaksi Justisia untuk memasuki dunia sepak bola berbasiskan kajian pustaka. Telaah terhadap teks-teks yang telah ditelurkan atas peristiwa seputar kegiatan olah bola hingga bintang lapangan hijau. Fenomena itu yang dikemudian hari mendapatkan tempat untuk  mengkaji dari persfektif fenomenologi seluk-beluk lapangan hijau.

Mulai dari  nilai-nilai solidaritas yang tercipta dari pertentangan dilapangan hijau, fanatisme suporter, hingga agresifitas manusia yang menginfakkan dirinya menjadi loyalis. Istilah “tim kesayangan” pun menumbuhkan militansi tanpa batas sebagai penggambaran atas kesediaan menyaksikan klubnya bermain baik kandang, tandang hingga menyisihkan waktu 2X45 menit demi kepuasan semu suporter laya kaca.

Sudut padang yang dipilih untu menelisik peristiwa sepak bola dengan hiperrealitas yang terjadi di penggila olah raga sebagai komunikan massa. Pun, fenomenologi digunakan untuk mendedah terkait perilaku suporter sepak bola yang mehiasi di tribun stadion di setiap pertandingan.  Sedapat mungkin pendekatan tersebut menyajikan kajian persepakbolaan di berbagai  kancah.        

Sepak bola merupakan salah satu kebudayaan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Hal itu disebabkan karena sifat dari sepak bola itu sendiri. Pertama, permainan ini sangat sederhana sehingga mudah dimainkan. Kedua, sepak bola menjadi olahraga yang dapat menyalurkan kepenatan baik psikis maupun psikologis. Di samping itu, menurut Sri Agustina Palupi, peran aktif penggemar sepak bola sebagai pilihan rekreasi, dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Pendirian klub-klub sepak bola yang diperuntukkan sebagi institusi bisnis menjadikannya kian semarak.

Dalam perkembangannya, seperti yang dikatan oleh Ernesto “Che” Guevara, bahwa sepak bola memang bukan hanya sekedar permainan. Tokoh revolusi asal Argentina ini adalah pecandu sepak bola.

 Menurut catatan hariannya yang ditulis di bulan Mei 1952, Che pernah bermain di divisi satu Liga Sepak Bola di Buenos Aires. Meski mengidap asma sejak kecil sampai akhir hidupnya, Che tak menyurutkan niatnya untuk menjadi seorang kipper. “Sepak bola adalah olahraga yang paling merasuk ke dalam relung hatinya”, cerita alberto Grenado, rekan seperjalanannya dalam biografi yang ditulis oleh John Lee Anderson[1] dan Hugo Gambini.[2]

Che sebagai tokoh dengan ideologi Marxis dan paham komunis memang tidak secara langsung mengampanyekan sepak bola dan berkelindan dalam organisasinya. Namun, kesamaan paham dan pemikiran dengan beberapa orang yang simpatik dengan perjuangannya, menjadikan Che sebagai simbol perlawanan di lapangan hijau.

Tercatat pendukung tim sepak bola Hapoel Tel Aviv, Livorno dan Omonia Cyprus yang lekat dengan tradisi ideologi sayap kiri menjadikannya sebagai ikon dan memajang spanduk bergambar wajahnya di stadion kala tim mereka bertanding. Beberapa tim lain layaknya Glasgow Celtic, Marseille, Rosario Central, dan St. Pauli memujanya bak pahlawan.

Sepak bola sebagai peristiwa sosial, bukan sekedar olahraga 22 pemain di atas lapangan, juga paling mungkin dihayati, dinikmati juga diamati. Sesorang dari kota Semarang atau Johanesburg bisa menulis mengenai sepak bola Eropa sebagai sebuah gejala sosial.  Juga dapat berbicara tentang bagaimana sepak bola menjadi identitas perlawanan kaum bohemian dan anarkis yang mendukung St. Pauli.

Mengutip tulisan Azyumardi Azra di harian Republika (18 Juni 2011) “Terdapat lima hal pokok yang membuat sepak bola dapat disebut sebagai Civil Religion (Agama Sipil)” bila dipadukan dengan kerangka teori Robert N Bellah

Pertama, adanya pemujaan yang berbau sakral, legenda, mitos dan bahkan takhayul terhadap kesebelasan, pemain, pelatih, dan bahkan simbol-simbol tim tertentu.

Kedua, adanya berbagai ketentuan yang telah mengalami “sakralisasi” sehingga tidak lagi bisa dipersoalkan.

Ketiga, adanya lembaga dan orang-orang yang menjadi “the guardian of the faith” (penjaga keimanan) sejak dari FIFA, asosiasi atau federasi sepak bola negara sampai kepada wasit dan hakim garis yang tidak pernah bisa disalahkan dan seolah harus dipandang “ma’shum” (bebas dari dosa), meski jelas-jelas mereka keliru dalam mengambil keputusan.

Keempat, adanya fanatisme buta, yang menyebabkan terjadinya kekerasan atas nama sepak bola, seperti terlihat dalam “hooliganisme”.

Kelima, adanya sumpah dan janji setia pada tim sepak bola tertentu, lengkap dengan “lagu suci” semacam “We are the Champion”.

Begitulah fenomena sepakbola sebagai olahraga mampu menyihir penduduk dunia dan bisa dikatakan telah menjadi agama kedua penduduk dunia. Dalam sejarah dan perkembangannya sepakbola tidak hanya sekedar sebagai olahraga, tapi juga sebagai alat perjuangan dan pertarungan ideologi politik.

Di zaman kapitalisme modern ini, sepakbola tidak lepas dari cengkraman hebat kapitalisme, sepakbola telah menjadi alat untuk meraih gelontoran dana dan bak seekor “sapi perah” bagi para pengusaha dan pemilik modal dunia.


Baca lainnya