Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Menziarahi Si Kulit Bundar di Benua Biru

6 min read
Home & Awya
Home dan Away

kredit ilustrasi : Goodreads

Oleh : Rais (Mahasiswa UIN Walisongo)

Pengalaman berziarah sepak bola di negara Eropa menjadi pengalaman yang tak ada duanya. Kegilaan warga Benua Biru pada olahraga kulit bundar tak sekadar di dalam stadion. Di luar stadion, klub menjadi  kebanggan bagi si anak karena ayah dan ibunya menjadi suporter fanatik di kotanya. Bocah kecil itu terlahir dengan bendera klub turunan layaknya agama di kartu tanda pengenal.

Seluk belum stadion hingga suporter disajikan  Mahir Pradana dalam buku berjudul “Home & Away; Kaki_Kaki yang Bergerak Mencapai Impian”. Terdiri dari 29 tulisan, di awali dengan “Kick Off di akhiri  “Final Whistle” menjadi salah satu karya pandit yang berhasil menziarahi beberapa stadion dan bercengkarama dengan suporter-suporter klub dan timnas di Benua Biru.

Mahir Pradana menemukan pengalaman saat berkunjung ke Turki pada Agustus 2012. Dalam tulisan berjudul “Turkish Delight”, membuat penulis kagum terhadap loyalitas fans klub-klub Liga Turki. Masyarakat di sana sangat gemar mendiskusikan sepak bola lokal ketimbang luar. Faktor ini justru menjadi salah satu kebangkitan literasi suportenya.

Ditambah lagi, deretan keberhasilan klub Liga Turki dan Timnas Turki pasca tahun 2000. Keberhasilan Galatasary menjuarai Piala UEFA pada tahun 2000 setelah mengalahkan klub raksasa Ingris, Arsenal lewat adu penalti. Keberhasilan Timnas  Turki yang berhasil keluar sebagai juara tiga Piala Dunia 2002. Berselang delapan tahun kemudian, Turki kembali mengejutkan sepak bola Eropa, maju ke semifinal Piala Eropa 2008. (h.153)

Kepinga-kepingan keberhasilan Turki  menjadi penting bagi peradaban sepak bola di negara bekas kekuasaan Turki Ottoman. Meski sering dianggap “tim kejutan” dalam turnamen di daratan Benua Biru. Capaian ini bisa menjadi alarm bagi tim-tim kuda hitam lainnya di negara-negara Skandinavia atau Eropa Timur.

Mengapa fans sangat penting bagi bangunan sepak bola di Turki ? Meski rivalitas antar suporter cukup keras. Misalnya antara fans Galatasary dan Fenerbache. Saat keduanya berjumpa dalam Derbi Istanbul akan terjadi clash of civilazition.  Mulai dari adu chant, adu koreografi, hingga adu urat syaraf di tribun hingga luar stadion.

Namun ungkapan gelandang Brazil era 80-an, Socrates,  nampaknya di ikuti oleh sebagian fans di Turki. Bahwa sepak bola hanya 90 menit, setelahnya kita bersaudara. Suporter Galatasary, Fenerbahce, dan Besiktas dikenal memiliki fanatisme yang tinggi. Berinisiatif untuk membuat aksi demonstrasi menentang pemerintah mereka yang dianggap represif. Headline,ini sempat menjadi perhatian dunia. Sebab, Football in Turkey is larger than life. (h. 155)

Iklim suporter di Turki di bangun secara biologis dan geografis. Dari daerah mana ia dilahirkan maka sebuah takdir, dirinya harus mencintai klub A. Meski dirinya harus berpindah negara, tv kabel di rumahnya membeli channel Liga Turki demi menonton dari jauh klub daerah sekaligus kesayangannya.

Bangunan suporter sedemikian justru, sama halnya agama. Si kulit bundar salah satu Kawasan Eurasia seringkali diwariskan secara turun-temurun di dalam keluarga. Sekitar 98% populasi Turki memeluk agama Islam karena “diwariskan”. Bapak-ibu dan kakek-nenek mereka memeluk agama Islam, sehingga bayi yang lahir pun otomatis beragama Islam.

Begitu pula dengan klub sepak bola. Dalam sebuah keluarga hanya ada satu pilihan. Jika bukan Galatasary, keluarga itu pasti fans Fenerbache. Jika bukan kedua klub besar itu mereka fans Trabzonspor, Besiktas, dan sesuai wilayah masing-masing. (h.159)

Turki tidak sendirian perkara mewariskan klub kecintaan orang tua kepada putranya. Orang-orang Italia tidak bisa memilih klub sepak bola kesayangan sesuka hati. Merek ayang tumbuh besar jadi penggila bola hanya mengikuti apa yang digariskan di keluarga mereka. Misalnya jika saya lahir di keluarga fans AC Milan, saya akan menjadi fans AC Milan dan otomatis cenderung membenci Inter. Begitu pula sebaliknya. (h.183).  

Mengapa mewariskan klub kesayangan orang tua kepada anaknya menjadi begitu penting. Mahir menemukan alasan itu ketika berkunjung ke Barcelona pada 10 Juli 2012. Dalam tulisan berjudul “Daniel and National Pride” mengisahkan bahwa Daniel sebagai warga asli Catalunya. Mengalir darah perlawanan terhadap Madrid, sebab ia tumbuh dan besar di atmosfer Stadion Camp Nou.

Daniel menanyakan kepada Mahir tentang klub daerahnya di Indonesia. Meski jawaban Mahir kala berdialog kurang memuaskan, tapi disinilah perjalanan kaki penulis  buku berjudul “Home & Away; Kaki-Kaki yang Bergerak Mencapai Impian” melihat bahwa kecintaanya terhadap PSM  sebagai kota tanah kelahiran dan Persib sebagai kota rantau saat kuliah.

Ia semakin yakin, bahwa fanatisme kedaerahan terhadap klub sepak bola menjadi identitas yang harus di bawa oleh setiap individu kemana saja.  (h.234).

Ziarahnya ke monumen sepak bola Eropa tak selesai di Turki, Italia, dan Spanyol.  Kaki Mahir masih melangkah untuk nonton perhelatan Piala Eropa di Swiss dan Austria. Keberaniaanya untuk menonton sepak bola, mengingatkan dirinya saat masih duduk di SMA.

“Jangan sampai pelajaran sekolah mengganggu kegiatan sepak bola. Saya tidak mengira bahwa suatu hari nanti sepak bola justru membuat saya menunda ujian di kampus. (h.115)

Tetibanya di arena stadion. Ia disuguhi pertunjukkan fan garis keras Polandia. Kegagalan tim nya berujug pada melampiaskan kekesalan dengan memukul secara random orang orang yang berjalan pergi meninggalkan pertandingan sebelum peluit akhri dibunyikan.

Mungkin mereka adalah orang-orang berprinsip ekstrem yang menganggap dukungan kepada tim kesayangan harus diberikan hingga tetes darah terakhir.

Selama ini, dirinya membaca tentang perilaku fans epak bola di Eropa Timur yang cenderung ekstrem dan berujung kekerasana. Selama ini, saya kira itu hanya cerita yang dibuat-buat media. Namun, ia menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri di Warsawa.

Tampaknya, seperti halnya pengikut agama, pecinta sepak bola pun akan menjadi berbahaya jika memiliki kadar fanatisme yang terlalu ekstrem.(h.143).

Selain fanatisme buta fans-fans di Eropa Timur ada juga fans garis keras di Irlandia. Mahir, bertemu dengan salah satu suporter Irlandia yang berbicara tentang loyalitasnya.

I have been everywhere Ireland plays, The farthest I went was when we played in Korea and Japan. Good old days

Di akir percakapan, Mahir menanyakan mengakan kecintaan warga Republik Irlandia terhadap sepak bolanya bak opium. Sehingga seluruh komponen di negara kelahiran Robbie Keane, mengharuskan sebuah perusahaan saat Irlandia bermain menyiapkan karyawan part-time sebagai cadangan.  

“Jangan kaget, beginilah pada umumnya hidup kami, pecinta sepak bola di Irlandia. Para petani pekerja menjual hasil panen untuk ditabung demi memesan tiket pesawat untuk bepergian ke luar negeri mendukung The Green Army. Begitu pula mereka yang bekerja di bar-bar atau di kantor-kantor pemerintahan. (h.147).

Homo Pedifolium

Mereka riuh bernyanyi dan menyuarakan semangat dukungan kepada tim kesayangan mereka, tetapi jauh dari predikat biang onar dan kerusuhan. Sepak bola memang adalah salah satu perayaan yang paling meriah dalam hidup manusia. Masyarakat Jerman paham sekali akan hal itu.

Keinginan penulis  menjadi bagian dari stadion sepak bola yang penuh dengan penonton. Bersama gairah dan sorak-sorai itu.  Akhrinya tercapai juga. Menurut faham teologi, Mahir disebut Homo Pedifollium, yang artinya manusia sepak bola. Sebab melalui  olahraga ia selalu memiliki sentuhan ajaib yang membawa kegembiraan bagi masyarakat. (h. 24).

Kebahagiaan dalam sepak bola juga  juga menular ke bagi bisnis. Dalam tulisan berjudul “Sepak Bola di Ruang Kelas”, Mahir menemukan kebiasaan dosen Consumer Behaviour saat mencontohkan  komunikasi brand yang baik dalam dunia sportainment adalah Liga Champion.

Ia bukan sekadar turname antar klub raksasa di Benua Biru. Dibaliknya ada perang bisnis terbesar antara perusahaan-perusahaan raksasa di Eropa adalah perebutan spot untuk menjadi sponsor utama kompetisi liga sepak bola.

Jutaan euro pun mengalir demi memasang logo produk mereka di papan reklame di dalam stadion sepak bola, dengan harapan jutaan pasa mata penonton aka n menyadari eksistensi produk tersebut. Selain itu, tentu saja, para pemain sepak bola diincar menjadi brand ambassador. Di Eropa menyajikan Football is the real deal. .

Di sepak bola selalu ada demand­-nya, lihat puluhan ribu  yang memadati stadion setiap minggu, atau jurnalis-jurnalis yang selalu memburu pemain sepak bola untuk dijadikan berita. Belum lagi kalau kita membahas perusahaan-perusahaan alkohol dan bandar taruhan judi. Sepak bola bukan hanya tentang 90 menit memainkan bola di lapangan. Sepak bola di Eropa lebih dari itu. Yang lebih penting, sepak bola adalah bisnis.

Profesor Nobert Thom saat mengajar Intercultural Human Resources Management melihat dua figure yang melihat jiwa kepemimpinan lintas kultural. Steve Jobs dan Guus Hiddink.  Saat Hiddink menukangi Korea Selatan dan Rusia di dekade 2000-an ia berhasil mempengaruhi style seseorang dalam mengajar, sekaligus membuat kecendurungan yang cukup tinggi.

Profesor Arthur Baldau dalam mata kuliah Coorporate Strategu  melihat bahwa sepak bola Eropa sangat masuk dalam aspek kehidupan masyarakat. Maka, resources dan capabilities nya di adu hingga competitive advantages untuk meningkatkan market share.

Ia mencontohkan stadion Bernabeu dan Camp Nou dengan 80.000 set penonton menjadi resources berupa tangible assets. Selain itu sekolah sepak bola yang membina anak muda sebagai (intangible asset) dengan  Jose Mourinho dan Joseph Pep Guardiola sebagai peracik kedua tim di atas. (93-95)

Ziarah Mahir pada akhrinya menukan simpul bahwa  sepak bola sebagai kaki-kaki yang selalu bergerak maju untuk menjapai tujuan tetapi selalu tahu kapan saatnya harus pulang ke darah sendiri. (h.275). Sejauh mata memandang, kehebatan para penari bola di tengah sorak-sorai pendukung yang rela membeli tiket hingga minum itu memberikan subtansi.

Bahwa manusia  sebagai makhluk berbudaya di tuntut untuk selalu berpindah-pindah. Maka, sepak bola menjadi cara saya untuk menjalani “kodrat” itu. Tidak ada tempat yang lebih tepat untuk memahami sepak bola sebagai warisan budaya dunia selain negara-negara di Eropa.  Ia diajarkan bagaimana proses mencintai sepak bola tanpa harus membatasi apakah tontonan sepak bola itu melibatkan tim-tim dan pemain-pemain ternama atau tidak.

Akhirul kalam, menikmati sepak bola apa adanya.

Penulis : Mahir Pradana
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : XII + 284 hlm
Peresensi : Rais