Fri. Oct 23rd, 2020

Marjin Bola

More than football

Sadomasokistik Timnas (senior) Indonesia

4 min read
Sadomasokistik Timnas (senior) Indonesia

Kredit foto : batamnews.com

Oleh: Rais (Mahasiswa UIN Walisongo )

Empat kali main, empat kali kalah dan 14 gol bersarang di gawang  Timnas Indonesia. Sedih dan kesal Bersatu, wajar bila teriakan dan tagar #simonout menggema di jagad nyata dan maya. Skuad senior notabene puncak kaderisasi pengelolaan sepak bola, justru  tak kunjunga sembuh dari penyakit musiman. Bermain tanpa persiapan, penguasaan taktik yang lemah, akhirnya kalah. Menjadi hal jamak yang ditolerir.

Penggemar  sepak bola Indonesia sudah tahu akan disakiti oleh timnas, mengapa masih merelakan waktu untuk menontonnya ?

Bagi warga negara manapun, menonton laga timnas adalah sebuah pertaruhan dan pertarungan harga diri bangsa. Panji-panji heroisme akan bertaburan, jika kemenangan didapatkan akan berbuah puja-puji. Namun, kekalahan akan berujung pada hujatan dan kritikan.

Timnas Indonesia sedang tidak beruntung, semenjak kekalahan dari Timnas Malaysia dengan skor 3-2. Cibiran saat timnas akan berlaga semakin menjadi-jadi. Ditambah kekalahan dari Thailand, berlanjut tandang di Uni Emirat Arab dan kalah kembali di laga tandang saat menjamu Vietnam.

Runtutan kekalahan itu merisak hati para Ultra Garuda. “Kalah ku dukung menang ku sanjung” wujud satire  karena sudah berulang kali disakiti meski tak berdarah. Suporter menjadi orang yang “masokis” yang terus menerus dipopor hasil minus tanpa menerima penjelasan yang logis dari sadisme yang dilakukan oleh PSSI.

Wikipedia, mengelompokkan istilah “sadis” dan “masokhis” secara terpisah  yang memiliki makna dari peran yang spesifik. Mereka yang menikmati pada posisi menyakiti -aktif- akan disebut sadis. Masokhis akan menjadi pihak yang disakiti -pasif- sebagai perannya.

Popor sadisme struktural yang dilakukan oleh PSSI yang tak kunjung memberi mengoreksi kinerja Simon Mc Menemy dkk dan berusaha menyamakan jadwal liga dengan laga internasional. Justru PSSI sibuk memindahkan venue laga Indonesia dari Gelora Bung Karno ke Wayan Dipta di Bali.

Tidak selesai pada PSSI, taktik yang digunakan Simon Mc Menemy mulai dari coba-coba formasi 3-4-3, 4-3-3, 4-2-1-3, atau 4-4-2 tidak dibarengin dengan pemerataan kemampuan taktikal dasar. Mulai dari pemahaman taktikal dan  kondisi fisik setelah bermain di liga lokal.

Sadisme timnas terus-menerus dipertontonkan saat berlaga, yaitu umpan-umpan panjang (long ball).  Kita tidak cepat sadar diri ketika melawan timnas dengan postur tubuh lebih tinggi, umpan-umpan atas bukan sebuh pilihan yang baik. Keunggulan,  sektor “flank”, kecepatan sayap, dan  kreatifitas gelandang-gelandang yang jarang dieksplorasi.

Puncaknya, sinisme kepada timnas menjadi puncak gunung es dari tata kelola sepak bola tanah air. Regenerasi di tubuh timnas tak kunjung selesai karena  untuk naik kasta harus bersaing (sebuh keniscayaan) dengan pemain-pemain naturalisasi yang kualitasnya juga dipertanyakan.

Sekumpulan sadisme Timnas Indonesia harus diterima oleh supporter yang oleh Simmon Kupper dinarasikan sebagai “konsumen” dan Marquis de Sade sebagai  masokis ulung ketika vis a vis dengan laga timnas. Kerinduan akan permainan ciamik timnas seringkali ditasbihkan saat era Luis Milla melalui posting cuplikan video di media sosial.

Sadomasokisme Suporter

“Pulanglah timnas, kamu sedang sakit,” tulis salah satu akun fans.

Seolah menggambarkan kondisi Timnas pasca Luis Milla diteruskan Bima Sakti diberikan kepada Simon Mc Menemy. Kita sedang ada pada titik nadir. Kualifikasi Piala Dunia Qatar menjadi salah satu tolak ukur jebloknya permainan dengan musuh yang sama.

Vietnam, Malaysia, dan Thailand sudah mengkadaskan kita dikandang. Ini sirine untuk laga-laga timnas berikutnya. Dua dari tiga negara -selain Thailand- yang kualitas timnasnya baru-baru ini moncer menjadi momok yang menakutkan.

Suporter timnas, apa yang digambarkan oleh Filsuf de Sade sama seperti manusia lainnya. Ia   adalah pemburu kenikmatan ekstrem yang tak peduli. Kenikmatan yang didapatkan itu sementara atau selamanya. Sebab, tujuan manusia untuk mencapai kenikmatan setinggi mungkin dan sesering mungkin. Manusia dikenal pemburu segalanya dan seringkali tak peduli dengan akibat pemburunya.

Betapa merindingnya mendengar lagu Indonesia Raya menggema di Stadion Gelora Bung Karno. Mengelu-elukan nama pencetak gol dan bernyanyi selama 2X45 menit. Kenikmatan suporter itu diraih dengan berbagai usaha dan tak peduli akibatnya apa pada dirinya. Mereka yang kadung kecewa akan mengumpat dengan seribu di dunia nyata maupun maya, lain halnya pendukung yang moralis memilih berargumen bahwa bola itu bundar.

Derita menjadi suporter Timnas Indoesia sudah tahu akan disakiti, namun menonton laga Timnas adalah harga mati.

Dalam novel Justine karya Marquis de Sade bahwa Hasrat mashokistik yang berujung pada Bondage, Disiplin, Sadime dan Masokisme. Bentuk pengekangan (bondage) dari suporter timnas tidak datang dari negara melainkan diri sendiri. Tak hanya melibatkan peran seksual, namun sensasi menonton timnas sebagai bentuk heroisme dari menit awal (disiplin) menjadi awal sukacita atau dukacita.

Timo Airaksinen menjabarkan pemikiran Donatien Alphonse Francois de Sade dalam karya The Philosophy of Marquis de Sade, bahwa dunia berbentuk energi dan materi semata. Model alam semacam ini, terdapat kejahatan dan kebenaran hanya semata soal perubahan energi akibat benturan atom di alam semesta.

Suporter seperti saya, melihat timnas merupakan energi dan materi berupa harga diri bangsa yang bertarung di gladiator berukuran 90 x 115. Disanalah 11 vs 11 ditambah suporter saat tandang maupun kadang menjadi tempat perjudian. Kemenangan dan kekalahan adalah hal bisa diakumulasikan melalui statistik dan keberuntungan.

Timnas yang baik dihasilkan dari tata kelola keolahragaan yang baik. Bagi Sade, adalah hal alamiah (nature) akan mengembalikan usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia. Sikap nature inilah yang disebut sebagai heroisme.

Idealnya PSSI melihat usaha-usaha yang dilakukan suporter melalui satire maupun kritik tentang tata kelola sepak bola yang gimmick tak berujung. Pencerahan ini yang akan mengembalikan “akal budi” ke dalam pusat, tapi Sade melangkah lebih jauh: ia meledek sekaligus mengambil alih akal budi untuk meyakinkan kita bahwa tak ada yang lebih penting di dunia ini selain kenikmatan diri, dan jika kita memerlukan filsafat, maka itu filsafat kenikmatan atau filsafat kesenangan.

Begitulah kenikmatan menjadi suporter timnas, meski sudah berulang kali disakiti justru semakin tahu cinta dan benci terhalang satir tipis.