Fri. Oct 23rd, 2020

Marjin Bola

More than football

Starting XI Serie A Era 90-an dan Harapan Seorang Suporter

3 min read

kredit foto : detik

Oleh : Rais (Mahasiswa UIN Walisongo)

Sepak bola Italia akan selu teringat dibenak generasi yang lahir pada dekade 90 an dan awal 2000.

Harmoni indah Serie A bak cerita cinta yang tak pernah lupa. Nama-nama pesepak bola yang terbaik dunia pernah bermain disana. Ada Diego Armando Maradona, Roberto Baggio, Ronaldi Dalima, hingga Paulo Maldini yang terbaru Cristiano Ronalda.

Tak pelak Serie A mejadi liga terbaik dunia kala itu. Dominasi tim-tim asal Menara Pizza marajai beberapa dasawarsa. Terakhir kali tim asal Italia menjadi kampiun Eropa saat Inter Milan berhasil memenangi Final Liga Champion musin 2011/2012, 2-0 melawan Bayern Munchen.  

Lambat laun dominasi tim asal Italia di kancah Eropa mulai meredup. Setelah beberapa tahun terakhir hanya sedikit wakil Italia yang mampu lolos di kompetisi kasta tertinggi Eropa. Selain itu seri A juga mulai di tinggalkan dari ingatan generasi baru setelah kalah bersaing dengan liga-liga lain, seperti La Liga dan Premier League.

Hal itu bisa dirasakan, setelah sedikit saluran televisi yang menayangkan secara langsung pertandingan seria A, meski itu bertajuk Big Macth sekalipun.   Lambat laun, para penggemar keseruan Serie A tetap merindukan ini. Nama-nama pemain di era emas Sirie A tak pernah dilupakan.

The Best Eleven era 90 an, yang kala itu masih bernama Lega Calcio.   Siapa yang tidak merindukan nama-nama yang sudah menjadi ikon kejayaan sepak bola di akhir 90 an. Mereka tidak cuma Berjaya di Eropa, saat kembali ke timnas masing-masing juga menjadi andalan kesebelasan negara mereka.

Merebut ingatan hati seluruh masyarakat adalah faktanya.   Old Calcio Italian Megazine yang sangat spesial pada edisi ke 100 mereka, menampilkan Starting XI terbaik era 90an.

Kiper – Gianluca Pagluica selain bermain untuk Inter Milan, ia juga sempat berseragam Sampdoria dan Bologna.

Bek Kiri – Paolo Maldini sang kapten AC Milan ini menghabiskan seluruh karirnya selama 25 tahun di Serie A.  

Bek Tengah – Franco Baresi pemain kelahiran Travagiliato Italia ini hanya berseragam AC Milan selama berkarir di sepak bola.  

Bek Tengah – Alessandro Custacurta pemegang Caps sebanyak 59 bersama Timnas Italia ini bermain di Piala Dunia 1994 dan 1998.

 Bek Kanan Inter Milan – Javier Zanetti pemain asal Argentina ini menjadi legenda besar Inter Milan, setelah bermain sejak 1995 hingga 2014.

Gelandang Bertahan – Demetrio Albertini selama berkasis di sepak bola dia pernah bermain untuk A.C. Milan, Calcio Padova, Atlético Madrid, S.S. Lazio, Atalanta B.C., dan FC Barcelona.

Lini Tengah Kiri – Pavel Nedved sebagai pemain tersukses asal Ceko, ia sempat bermain untk Lazio dan Juventus.

Gelandang Serang – Roberto Baggio ia membawa Timnas Italia menjadi Runner Up di Piala Dunia 1994 dan menjadi pemain terbaik FIFA saat itu.  

Lini Tengah Kanan – Rui Costa pemain asal Portugal yang semasa dengan Luis Figo sempat membela Fiorentina dan AC Milan saat bermain di Italia.  

Penyerang – Ronaldo De Lima sang Legenda Hidup asal Brazil ini membela Inter Milan dari 1997–2002 dan sempat kembali ke Italia pada musi 2007/2008.

Penyerang – Gabriel Batistuta pencetak 56 gol dalam 78 penampilan bersama Timnas Argentina bermain untuk Fiorentina dan AS Roma .

Coach – Marcello Lippi – Pelatih sukses yan tak pernah di lupakan masyarakat Italia, karena membawa mereka mampu manjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.

Kembali ke Serie masa lampau seperti melihat kenangan. Wajar bila penulis melihat kecerdikan pelatih, keunikan pemainan, dan fanatisme suporter yang kadangkala lesu jika Liga Italia dianggap kelas kedua.

Kasus pengaturan skor dan rasisme seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi operator liga.

Geliat skuad muda seharusnya tidak di lihat sebagai bakat transaksional. Seharusnya menjadi aset klub untuk mengurangi pembelanjaan dan mengembalikan prestasi di kancang Eropa.

Inter Milan dan Juventus dua klub yang terakhir mencicipi final Liga Champion. Sementara lainnya, tumbang di penyisihan grup atau sebelum laga final.

Hal ini jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan Timnas Italia yang stagnan. Tak mampu berbuat banyak di perhelatan Piala Dunia Rusia.

Merindukan Italia dengan segala aspek dalam sepak bola. Ia tak sekedar menari jika sebagai penari, ia juga tak sekadar menulis jika sebagai sastrawan.

Semoga ke depan Liga Italia kembali ke jalan yang benar.