Fri. Apr 16th, 2021

Chant “Dibunuh Saja” Nodai Tribun yang Suci

Chant “Dibunuh Saja” Nodai Tribun yang Suci

Oleh : Rais (Mahasiswa UIN Walisongo)

Geliat suporter menjadi magnet sepak bola di Indonesia. Dukungan fans kepada klub menjadi modal positif untuk membangun ekosistem olahraga si kulit bundar di negeri ini. Energi melimpah dari suporter seyogyanya di lihat oleh klub dan operator liga.  Sebab, wajah suporter menjadi  cerminan kompetisi di suatu negara.

Suporter menjadi satu pembahasan dalam buku berjudul “Bola Kita” karya Miftah FS dan Fajar Junaedi terdiri dari tiga bab dengan jumlah 23 artikel. Pada bab pertama membahas ekonomi politik sepak bola. Pada bagian kedua, sepak bola dan fans. Bagian ketiga bertema, sepak bola, media dan kemanusiaan.

Stigma suporter pembuat rusuh, onar dan lain sebagainya. Perlu melihat ulang pemahaman anda pada dua peristiwa yang di gambarkan oleh Fajar Junaedi dalam tulisan berjudul “Kehendak Memaafkan di Tengah Konflik Suporter”, peristiwa penanaman pohon cinta yang ditanam oleh Pasoepati dan Bonek menjadi langkah permintaan maaf dan pengampunan terjadi. Phon cinta tersebut adalah janji, yang menurut Hannah Arrendt, jika pengampunan memperbaharui dan merehabilitasi suatu perbuatan tindakan di masa yang lampau, janji memberi semacam “kepastian” sebagai obat tindakan di masa yang akan datang.

Kemampuan manusia membuat janji menjadi kekuatan yang menyediakan stabilisasi yang inheren dalam sejarah tradisi umat manusia. Dinamai sebagai pohon cinta, digambarkan dalam The Human Condition (1959),  cinta sebagai kekuatan yang menggerakkan kemampuan untuk memaafkan. Semoga benih-benih pohon cinta yang di tanam pada 8 Januari 2011 menyebar ke berbagai kelompok suporter sepak bola di kota-kota lain (h.58-59).

Selain Pohon Cinta, perdamaian itu tercipta melalui Nasi Bungkus dan Air Mineral Curva Boys kepada Bonek Mania. Saat Bonek akan menjalani untuk melakukan aksi di Jakarta menuntu pengembalian satus Persebaya yang dibekukan PSSI.

“Nasi dan Air Mineral yang diberikan Curva Boys di Stasiun Babat menjadi jalan pembuka perdamaian. Luka itu tak pantas dibiarkan. Permusuhan itu tak selayaknya di rawat. Sebaliknya luka harus diobati. Disembuhkan. Permusuhan harus diakhiri. Pintu perdamaian mendapati jalan pembuka di Stsiun Babat. (h.56)

Selain Bonek dan Pasoepati dan Bonek dengan Curva Boys melakukan proses reduksi pertengkaran, cerita menarik dari suporter Madiun Putra FC (MPFC), The Mand Mad Madia yang menjadi penghubung dua rumah besar persilatan di Madiun.

Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo dan Persaudaraan Setia Hati Terate dapat saling dirangkul melalui The mad Mania berdasarkan visi dan misi The Man Mad Mania sejak didirikan agar mampu merangkul semua kalangan, terlebih konflik warga perguruan silat selama ini terkesan menakutkan. (h.72).

Empat peristiwa ini sesunggunya menjadi salah satu kabar baik, sebab sepak bola seyogyanya membuat setiap orang datang untuk merayakan. Menjadi menyedihkan, jika olahraga si kulit bundar membuat orang cemas dan kehilangan gairah datang ke stadion.

Tribun stadion adalah tempat di mana ritual mendukung sebelas pemain yang mengenakan jersey kebanggan sedang bertanding menjaga kehormatan klub. Jika tribun stadion dianggap sakral, seharusnya yang dilantukan adalah chant (nyanyian yang di dalamnya ada doa). Bukan lagu provokasi yang berisi ajakan untuk membunuh. (h.63-64)

Nyanyian adalah harapan. Dalam sepak bola harapan itu akan dikumandangkan dalam stadion selama 90 menit.  Setelahnya, kita tetap menjadi saudara sesama manusia. Karena itu suporter mendukung klub yang sedang bertanding, bukan membunuh suporter lawan.

Jika terus menyanyikan lagu “Dibunuh saja”, perlu dipertanyakan totalitas kesuporterannya dalam mendukung klub. Anda sebagai suporter perlu mempertanyakan totalitas kecintaan dirigen (capo) anda kepada klub jika dia masih mengajak untuk menyanyikan lagu Dibunuh saja (h.64).

Melihat banalitas suporter, tentunya literasi sepak bola membeli tiket pertandingan dengan tertib serta merchandise klub dan tim nasional yang resmi. Literasi suporter sepak bola sudah tersemai melalui publikasi literatur tentang sepak bola dalam beragam persfektif.

Salah satunya, literasi suporter tercermin saat Bonek mengambil langkah hak Jawab atas program Terlusur di TV One. Daripada mendatangi redaksi dengan menggebrak-gebrak meja atau melakukan kekerasan terhadap reporternya.

Suporter Persebaya memilih untuk membaca regulasi pers, terutama pers penyiaran. Membaca pasal demi pasal dan menemukan pasal yang dilanggar TV One. Literasi ini melakukan kemampuan berkomunikasi secara kompeten, lebih proaktif daripada reaktif. Kearifan lokal tersebut tercermin dalam ajaran moral “Ajaran tumindak grusa-grusu, nanging tumindak kanthi landesan pikiran kang wening. (h.92)

Fajar Junaedi dalam tulisan “Ruang Publik dan Kopi di Warkop Pitulikur” menggambarkan literasi suporter. Serombongan Bonek dari Jakarta dan sekitarnya datang setelah menempuh perjalanan dengan moda transportasi udara. Berjumpalah mereka dengan rombongan Bonek dari Yogyakarta dan beberapa kota lain, serta tentu saja tuan rumah, Surabaya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, perbincangan mengerucut pada satu tema, Persebaya.

Lebih dari dua tahun, klub ini di dera dualisme setelah intervensi dari PSSI berkaitan tentang kepemilikan Persebaya. “Persebaya” yang didirikan dengan restu PSSI ternyata tidak mampu mengundang simpati publik Surabaya justru Persebaya harus menyandang nama Persebaya 1927 yang mendapatkan simpati publik. Perbincangan ini menjadi waca tentang masa depan Persebaya berkaitan kepastian hukumnya di meja hijau.  Warkop Pitulikur sedang mencoba menghadapi tirani yang mencoba mematikan Persebaya (h.117).

Suporter menjadi bagian penting bagi pengembangan sepak bola. Ia tidak bisa dilihat sebelah mata. Karya Bola Kita telah menggambarkan, suporter mampu membawa perubahan sedikit demi sedikit. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sebab tribun itu suci, jangan kau nodai dengan chant dibunuh saja.

Penulis : Fajar Junaedi dan Miftakhul FS

Judul Buku : Bola Kita

Penerbit : Fandom Publishing

Tahun : April 2020

Halaman : xii+132

Peresensi : Rais