Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Manchester City Fana, Wiranto Abadi ?

4 min read
Perlukah Manchester City Belajar Kepada Wiranto ?

Wiranto dan Prabowo Subianto. FOTO/REUTERS

oleh : Rais (Mahasiswa UIN Walisongo)

marjinbola.com Kekalahan kedua yang di derita oleh  Manchester City musim atas Wolverhamptom 0-2,  pertanda The Citizens tak mampu belajar dari kompetisi tahun lalu. Klub asuhan Pep Guardiola, musim lalu saat ditahan imbang The Wolf  di Molineux Stadium dengan skor 1-1.

Wolves, menjadi klub pertama yang mengalahkan City tanpa kebobolan di era Guardiola. Pelatih Nuno Gomes memasang taktik bertahan dan serangan balik efektif yang tidak berhasil di redam oleh duo bek The Citizen, Kyle Walker dan Nicolas Ottamendi.

Musim lalu  Raul Jimenez dkk berhasil berhasil merepotkan  big six. Meski musim ini baru mendapatkan dua kemenangan dari delapan pertandingan, kemenangan melawan City akan menjadi menjadi modal besar menghadapi Southampton, (19/10) di Molineux Stadium.

Untung bagi Nuno Gomes, bunting bagi klub asuhan Pep Guardiola. Musim ini juga ditekuk oleh Norwich City dengan skor 3-2. Rentenan kekalahn itu alarm bahwa ambisi Manchester City untuk merengkuh kembali gelar Liga Ingris tidak semudah mengembalikan telapak tangan. Padahal, pelatih Manchester City memiliki standar tinggi saat mengasuh klubnya di delapan pertandingan awal dan akhir.

Namun, Pelatih City, Pep Guardiola menolak mengibarkan bendera putih, ia masih optimis melihat kesempatan juara.

“Masih ada banyak pertandingan di depan,” bolasport.com

Kolumnis, Richard Jolly menyebut kemenangan bersejarah Wolves atas City merupakan hadiah bagi penyerang Adama Traore.

“City telah kehilangan lebih banyak poin di kandang daripada musim lalu, tetapi Wolves, yang tajam dalam serangan dan bertahan di pertahanan, bisa menikmati kemenangan bersejarah. Mereka belum pernah menang di City di papan atas sejak 1979 dan gol terakhir Adama Traore adalah hadiah yang pantas mereka dapatkan untuk performa yang luar biasa,” tulis Richard Jolly di laman  independent

Pep juga harus segera mencari pengganti sepadan Vincent Kompany di lini belakang. Proyek galaticos pemain belakang ala Guardiola, John Stones dan Laporte tak bisa mengemban tugas bek-bek Inggris yang maha berat.

Guardiola juga memakai, Kyle Walker yang posisi awalnya wing back atau right back di tarik ke center back.  Penggunana Walker di posisi center back, sama halnya digunakan setiap Walker bermain di bawah asuhan Gareth Southgate di Timnas Inggris. Kecepatan  Walker dianggap bisa menjawab kebutuhan pemain bertahan yang tidak hanya bertahan, melainkan memulai serangan dari posisi tersebut.

“Sementara City dibisukan, Wolves hamper tidak melihat tim yang telah bermain di Turki 68 jam sebelumnya, bahkan kehilangan Romain Saiss tidak menggangu mereka. Mereka menunjuukkan organisasi, konsentrasi, dan tekad. Mereka memiliki pertahanan yang terkonfigurasi dengan baik, memadati tengah lapangan dan melepaskan striker mereka pada serangan balik. Mereka yang maju, seharusnya menemukan jala dalam pertandingan lebih cepat yang menjadi dua kali lipat sebagai ilustrasi dari kekurangan Nicolas Otamendi,” tambahnya.

Tiru Wiranto ?

Dalam perjalan merengkuh trofi Liga Inggris, sebaiknya Pep Guardiola tidak belajar kepada Jendral (Purnawirawan) Wiranto soal merengkuh sebuah kemenangan. Wiranto memiliki keengganan dalam menjadi sesuatu yang bergunan terlihat menjadi baik.

Wiranto, Panglima ABRI (Pangab) periode akhri Orde Baru nyatanya tak bisa melenggang mulus di gelanggang politik nasional. Dua kali mencalonkan diri, dua kali mengalami kegagalan. Petrik Mantasi dalam tulisan berjudul “Wiranto vs Prabowo: Awal Persaingan Mantan Ajudan dan Bekas Menantu”

“Memasuki tahun 2000an, Prabowo dan Wiranto berjumpa di gelanggang politik. Keduanya bersaing memperoleh dukungan Partai Golkar untuk maju sebagai calon presiden. Wiranto menang dalam konvensi Golkar, tapi kalah di bilik suara oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu berduet dengan Jusuf Kalla (JK),” tulis Petrik Mantasi di laman tirto.id

Dua kali beliau masuk ke gelanggang capres, dua kali juga gagal. Disini titik perbedaan Pep Guardiola dan Wiranto. Pep sudah dua kali merengkuh Liga Inggris sementara Wiranto tak merengkuh namun ada di setiap tampuk kepemimpinan berpindah.

“Pada 2006, Wiranto mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dua tahun kemudian, Prabowo mendeklarasikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 2009, Prabowo berpasangan dengan Megawati, sementara Wiranto menggandeng Jusuf Kalla. Kedua pasangan calon, lagi-lagi, keok oleh SBY yang kali ini merangkul Boediono,” tambahnya

Fenomena dua kekalahan Manchester City hari ini, sama hal nya seperti 2013/2014. Kala dibesut oleh Manuel Pellegrini, The Citizen hanya mengoleksi 16 poin dan mengalami kekalahan dari Cardiff City (2-3) dan Aston Villa (2-3). Durian runtuh justru menghampiri City dan juara dengan mengumpulkan 86 poin pada akhir musim.

Manchester City sama halnya Wiranto, di tahun itu ia kena durian runtuh. Wiranto yang duduk sebagai Ketua Umum Partai Hanura, ditunjuk jadi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan.


“Pada 2016, Wiranto kejatuhan durian runtuh. Ia masuk kabinet Jokowi dan menduduki kursi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan,” tulisnya Petrik.

Memang laga baru berjalan delapan kali. Soal siapa untung siapa buntung bisa ditebak mulai pekan ini. Pesaing terdekat City, The Reds tak bakal diam. Bermodalkan rekor poin penuh hingga pekan ke delapan. Namun, memprediksi klub asuhan Klop akan juara musim ini di pekan ke delapan sama hal nya mempercayai Wiranto akan jadi Menkopolhukam kembali . So, tetap tonton hingga akhir musim. Sebab “bola itu bundar” kata Pelatih Jerman Barat Sepp Herberger usai timnya mengalahkan tim Honggaria di Piala Dunia 1954.