Tue. Dec 1st, 2020

Marjin Bola

More than football

Kritik Industrialisasi Sepak Bola

5 min read
Kritik Industri Sepak Bola

kredit foto : berdikari book

Oleh: Rais*

“Sepak bola lebih penting dari sekadar hidup dan mati”

(Pelatih Liverpool era 1959-1974, Bill Shankly )

Sepak bola bak ruang penuh sesak yang membutuhkan sentuhan-sentuhan penulis untuk mengabadikan setiap momennya. Setiap peristiwanya patut dirayakan dan diabadikan. Ia menjadi alarm untuk di masa yang akan datang. Karena sesungguhnya, bola bundar seperti urip koyo cokro manggilingan.

Peristiwa-peristiwa di lapangan ditulis dengan ciamik oleh Amir Mahmud melalui kolom-kolom dalam rubrik “Free Kicik” setiap pekan di Koran Suara Merdeka. Ia memanggungkan nilai-nilai  sepak bola dengan segala ekspresi rasa, cinta, kebahagiaan, kesedihan hati, bahkan kegilaan manusia dari buncahan kegairahan, kegelisahan, kegalau juga keputusan dan harga diri. Hakikat hidup tergambar baik secara tersirat maupun tersurat dari pernak-pernik industri kompetisi ini. (h.5).

Amir Mahmud yang terkenal kuat dalam menulis tentang komitmen kuat terhadap “kecerdasan” rasa sebagai pemicu ekspresi gagasan-gagasan ke dalam bahasa lisan ataupun bahasa tulis (karya nonfiksi ataupun fiksi).

Dalam buku berjudul “Sepak “Dolar” Bola Manusia dalam Industri Sepak Bola terdiri dari lima putuh satu kolom dibagi dalam empat bagi. Bagian pertama, 14 tulisan dengan tema “Masih Ada Perasaan di Balik Profesionalisme”. Bagian kedua, 12 tulisan membahas “Yang Tengah Terpuruk dan Tersisih”. Bagian ketiga, 14 tulisan membahas “Yang Membuai dan Mencumbui Asa”. Di bagian terkahir, 11 tulisan membahasa  “Dinamika Sepak Bola sebagai Industri”.

Pada  bagian pertama, Amir Mahmud mengulas bagaimana  perasaan seorang pemain sepak bola di tengah kepungan industri. Dalam tulisan berjudul “Menemukan Hari, Menemukan Hati” menggambarkan Antonio Cassano yang terkenal bengal dengan segudang bakat di dalam dirinya.

Pasca kepergiaanya dari Bari, ia doyan gonta-ganti klub. Tercatat AS Roma, Sampdoria, AC Milan, dan Real Madrid pernah merasakan servisnya. Sebagai seorang fantasista, Cassano tahu betul bagaiman mengelola dirinya sendiri. Namun, kenyamanan “at home” yang ia idamkan ternyata bukan sekadar basa-basi profesionalitas. Sebab lingkungan baru membutuhkan adaptasi sekaligus “nyetel” dengan pelatih. Cassano cenderung membangkan namun tetap bersinar dengan label “fantantonio” nya.

Ulasan penulis Sepak Bola Semarang di bagian kedua, mengisahkan “Yang Tengah Terpuruk dan Tersisih”.  Pada tulisan berjudul “Demi Permusuhan” menyajikan  panggung sepak bola ibarat panggung kekuasaan. Teatrikal yang yang berjalan pada kekuatan taktik sekaligus luapan emosi membawa setiap pelakunya -pelatih-pemain-fans – mengorbankan kehormatan demi lambang klub di dada (h.124).

Klub dan pelatih menjadi gambaran chemistry-sendiri. Faktor kecocokan hati atau garis tangan pada segi-segi tertentu tak terbaca sebagai produk teknis manajerial. Perasaan bermain untuk menaukan gairah sekaligus spirit yang mendorong pemain menjadi  serdadu dengan segenap jiwa petarung yang memburu kehormatan. (h.133)

Laga-laga yang di nanti umat sejagad seperti El-Classico antara Barcelona dan Real Madrid, Derbi Der Klassiker antara Bayer Munchen vs Borussia Dortmud, North-West Derby antara Liverpool vs Manchester United. Salah tiga contoh ini menjadikan sepak bola tak sekadar perang taktik, melainkan garis tangan (rekor) sekaligus keajaiban yang akan berjung pada duka maupun suka.

Pria kelahiran Pati, 69 tahun silam menggoreskan buah pikiran tentang masa depan pemain muda di bagian ketiga. Tulisan berjudul “Rindu Gascoigne” mengulas salah satu pemain muda berbakat dari Tanah Sepak Bola, Paul Gaza Gascoigne. Anak bawang yang bersinar di tengah pemain-pemai sekaliber Bryan Robson, Chris Waddle, David Plaat, saat Inggris tampil di Piala Dunia 1990.

Bagi Gaza yang di usia muda telah mengikuti kompetisi Liga Premier mampu mengangkan performanya. Sebab kompetisilah yang akan menguji daya tahan perjalanan anak muda untuk mencapai jenjang yang sepadan dengan bakat besarnya. (h.156).

Di akhir, judul “Dinamika Sepak Bola sebagai Industri” menjadi sesuatu yang relevan di erah perekembangan sepak bola kontemporer.  Komodifikasi fanatisme oleh industrialisasi menjadi pundi-pundi “cuan” untuk menghidupi klub. Tak pelak, basis suporter menjadi penting untuk meraih pemasukan.

Globalisasi menyonkong industri sepak bola mempertemukan para kompratriot dalam pergumulan fanatisme membela bendera klub masing-masing. Ada saat-saat rasa sebangsa senegara itu dilunturkan oleh spirit “kesukuan” klub yang menghadirkan getar primordi sangat kuat. Vibrasi perasaan itu bahkan lebih merasak ketimbang doktrin tentang loyalitas ketika seorang pemain telah menjadi bagian dari klub tertentu (h.215)

Muncullah bias kapitalisme industri yang menganggap profesionalitas sepadan dengan tesis ilmu politik “seorang penari lapangan hijau, melakukan apa, mendapat apa dan kapan”  (h.253).

Adakah Kapitalisme di Sepak Bola ?

Tepuk tangan kepada Henry saat menggring si kulit bundar untuk mengecoh lawan-lawan yang menghadangnya. Di lapangan ia bak “Pramodya Ananta Toer” yang membahasakan sepak bola dengan sejuta keindahan atau pelukis naturalis yang menolehkan ekspresi ide kanvas kreativitas.

Lesatan gol tidak seperti Diego Costa atau Ibrahimovic yang tekenal brangasan. Ia tetap menjadi “Sapardi Djoko Darmono” saat membobol gawang lawan. Gol-gol nya indah dengan gaya plessing yang seringkali dibicarakan oleh The Gooners.

Keindahan gol juga diciptakan oleh produk-produk Brzil. Produk seni bernama tendangan bebas oleh Jair, Nelinho, Juninho, dan Ronaldinho, dianugerahkan oleh Tuhan untuk kekayaan bakat alam Brasil. Sepak bola bagi mereka bukan sekedar sebagai mekanisme yang teroganisasi oleh sistem dan taktik, tetapi terutama lebih pada ungkapan perasaan hati, kegembiraan, dan naluri bermain-main. h.48).

“Homo Ludens” sebagai hakikat pemain sepak bola yang selalu menganggap bola adalah teman. Selama masih di lapangan dan memainkan bola sepuas-puasnya. Hingga suporter merasakah hiburan di stadion setelah melakukan penatnya aktvitas selama jam kerja.

Namun, tarian itu kini tampaknya menjadi sesuatu yang asing. Manusia pada hakikatnya senang bermain-main di ubah menjadi sebuah keteraturan. Profesionalisme di usung oleh industri menjadi keharusan yang wajib diterapkan oleh setiap klub.

Sifat global industri justru menempatkan sepak bola untuk mempertemukan para kompratriot dalam pergumulan fanatisme membela bendera klub masing-masing. Ada saat-saat rasa sebangsa senegara itu dilunturkan oleh spirit “kesukuan” klub yang menghadirkan getar primordi sangat kuat. Vibrasi perasaan itu bahkan lebih merasak ketimbang doktrin tentang loyalitas ketika seorang pemain telah menjadi bagian dari klub tertentu (h.215)

Garis geografis yang hilang itu menandakan sepak bola tanpa batas yang akhirnya bermakna tunggal: bisnis, atau industri atau pasar.  Persoalan kerasan dalam pemahaman verbal kondisi psikologis kebersamaan di lingkungan klub acap tidak bisa dipaami hanya dari sisi keberadaan. Ada nilai lain di balik wajah profesionalisme yang lebih mewujud dari rasa dan hati. Ia dipercaya, diberi peran, diterima fans, dan diakui oleh komunitasnya. (h.221).

Ya sisi rasa “rasa” dalam dunia indsutri sepak bola professional ini memang tetap menimbulkan kepekaan yang mengusik. Ketika urusannya berkelindan sebagai rivalitas harga diri, maka seorang pemain yang berganti kostum pun seperti “pindah rumah” dan pasti muncul pembanding: senyaman apakah dia di sana, sekerasan apa di rumah barunya ?

Kolom-kolom Amir Mahmud lebih mengedepan dalam ungkapan naratif dengan tusukan-tusukan persuasive argumentative. Nama liga, penanda waktu, musim kopetisi, perubahan pelatih dan pemainan yang baik air mengalir dan terus bergulir. Baginya, manusia di lingkaran peristiwa sepak bola yang nyatanya begitu kaya dengan persoalan-persoalan kemanusian yang unik dan tak terduga.

Jika dibandingkan dengan trilogi karya SIndhunata “Bola-Bola Nasib, Air Mata Bola dan Bola di Balik Bulan” memotret olahraga dari kacamata sosilogis hingga filsafat.  Kaya Amir Mahmud jarang sekali mencantumkan pendekatan teori sehingga cenderung ada di posisi reflektif setiap peristiwan, sementara Sindhunata dalam beberapa tulisannya terinspirasi dari teori seperti Zen R Sugito dalam buku Simulakra Sepak Bola dengan sentuhan sejarahnya.

Meski demikian, buku ini penting untuk di baca sebagai bahan kajian selanjutnya. Sepak bola sebenarnya menarik di setiap momennya apalagi datang ke stadion untuk menonton dengan keluarga. Salam olahraga.

Judul Buku : Sepak “Dolar” Bola ‘ Manusia dalam Industri Sepak Bola

Penulis : Amir Mahmud

Penerbit : Kaktus

Tahun : November, 2017

Jumlah Halaman : 278