Mon. Dec 6th, 2021

PSIS VS Arema, Catatan Dua Tahun Terakhir

PSIS VS Arema, Catatan Dua Tahun Terakhir

Oleh : Rais*

Lawatan Singo Edan ke kandang Laskar Mahesa Jenar di Stadion Gatot Subroto Magelang berakhir dengan skor 2-0, Sabtu (14/03/2020). Kemenangan ini membawa PSIS naik ke peringkat empat dengan total enam poin dari tiga laga.

Hasil ini memperpanjang rekor Hari Nur Yulianto, dkk saat bertemu dengan Arema dalam lima pertemuan terakhir, berakhir kemenangan untuk PSIS. Pada musim lalu  PSIS berhasil mengkandaskan Arema dengan skor 5-1.  Lewat brace Septian David Yulianto, dan satu gol masing-masing diceploskan oleh Bruno Silva, Hari Nur Yulian, dan Komarudin, sedang Arema hanya bisa membalas lewat gol semata wayang Rivaldo Bawuo, pada Minggu, (08/12/2019).

Sebelum bertandang ke Magelang, anak asuhan Milomir Seslija (pelatih kala itu) hanya bisa menahan imbang Laskar Mahesa Jenar dengan skor 1-1 di Stadiun Kanjuruhan, Sabtu, 31/08/2019. Klub kebanggaan warga Semarang ini, pasca promosi  ke Liga 1 pada tahun 2018, keduanya saling mendapat poin di kandang masing-masing dengan skor 2-1 pada, Rabu, (04/11/2018) dan  1-0 pada Jumat,  01/06/2018)

Rekor positif anak asuhan Dragan Djukanovic patut diapresiasi. Pasalnya kemenangan  ini menjadi motivasi awal bagi pemain PSIS untuk bisa konsisten dan diperhitungkan oleh kontestan Shopee Liga 1 lainnya.

“Jadi, dengan tiga poin ini. Saya bangga terhadap pemain saya. (Saya) mau katakana jika PSIS ini salah satu tim yang wajib diperhitungkan,” tuturnya.

Pria berkebangsaan Montenegro mengatakan PSIS hari ini  patut diperhitungkan saat melakukan laga kandang dan tandang.

“Semua kontestan Liga 1 harus respect saat menghadapi kami,” tambahnya. Meski demikian mantan Pelatih Borneo FC, mengapresiasi perlawanan tim asuhan Mario Gomes yang tak mudah untuk ditaklukan walau bermain tandang.

Berbanding terbalik, kekalahan Singo Edan di Magelang menjadi alarm bagi skuat Salman Al Farisi, dkk yang kini duduk diperingkat 12 klasmen sementara Shopee Liga 1.

Pelatih Arema Mario Gomes, mengaku Singo Edan kecolongan di akhir babak pertama dan awal babap kedua. Kelengahan ini berhasil dimanfaatkan oleh dua lesatan gol PSIS yang dicetak oleh Hari Nur Yulianto dan Bruno Silva.

“Kami kecolongan oleh gol di menit akhir babak pertama, setelah fokus lemah. Dan gol kedua mereka menjadikan situasi kami lebih sulit bangkit,” ungkapnya.

Rekor individu Mario Gomez tak begitu baik saat bersua Laskar Mahesa Jenar. Dari lima pertandingan terakhir, ia hanya dua kali memenangkan, dua kali kalah, serta sekali imbang.

Pada musim pertamanya berlabuh di Indonesia menukangi Persib Bandung hanya bisa menaklukan Laskar Mahesa Jenar 1-0 di Gelora Bandung Lautan Api, Selasa, (7/8/2018). Namun, saat tim asuhannya bertandang ke markas PSIS, anak asuhan harus tunduk dengan skor 3-0 pada Minggu, (18/8/2020).

Musim selanjutnya, pelatih berkebangsaan Argentina melatih Borneo FC.  Anak asuhnya berhasil menaklukkan PSIS dengan skor 2-0 di Stadion Segiri Samarinda, pada Rabu, (10/7/2019). Lalu skuat Pesut Etam berhasil mencuri satu poin di Stadion Mochammad Soebroto Magelang dengan skor 2-2 pada, Senin (26/10/2020).

Pilih Kemenangan atau Kerusuhan ?

Dua kemenangan PSIS atas Arema di Magelang selalu diwarnai kericuhan. Musim lalu, kemengan besar Laskar Mahesa Jenar dinodai oleh kerusuhan. Kasus serupa juga berulang di musim ini. Apakah memang ini akan menjadi langganan ? Perlu direnungkan bersama antara Panser Biru dan Aremania.

CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi menyayangkan kejadian ini. Ia menegaskan kedua tim akan terancam sanksi dari Komdis PSSI.

“Itu oknum Aremania mengamuk. Padahal Semarang dan Malang tidak ada masalah loh,” ucap Yoyok.

Dua kerusuhan di Stadion Mochammad Soebroto di Magelang jika dilihat dari kacamata “Fanatimse dan Agresivitas Suporter Klub Sepak Bola”, kedua suporeter memiliki psikologis yang fanatik seringkali tidak mampu memahami apa yang ad di luar dirinya dan tidak paham terhadap masalah orang atau kelompok lain. Sikap keduanya juga akan berujung pada pertahanan kelompok sendiri dan menegasikan dengan kelompok yang di luar. Sederhananya, siapa yang “in-group” dan “out-group” kemudian menganga lalu fanatisme lah yang dimunculkan. Ujungnya kekerasan yang dipelihara.

Ucapan CEO PSIS, Yoyok  tentang  “Semarang” dan “Malang” tidak ada masalah semestinya menjadi dua kata yang bisa dipahami oleh kedua belah pihak. Diantaranya tidak ada “api” yang sedang ditumpuk dalam sekam.

Dua kerusuhan yang terjadi di Magelang mestinya secara legowo meminta maaf dan tuan rumah pun memaafkan. Lalu bersepakat untuk tidak melupakan kedua peristiwa itu sebagai memori pengingat jika kejadian itu terus menerus dipelihara yang muncul bukan “kreativitas” suporter melainkan banalitas lah yang akan tampil di layar kaca.

Suporter “mandiri” dan “ideologis” lah justru yang memiliki daya tawar baik secara horizontal dengan masyarakat maupun vertikal dengan manajemen klub. Ia tidak dipandang sebagai sekumpulan “paduan suara” tanpa arti di tribun setiap pertandingan. Melainkan orang-orang yang punya “standing positition” dan “bargaining positition” saat siapapun tidak sepakat dengan kesepakatan bersama bernama suporter. Lalu, kerusuhan itu akan terus dipelihara ?

Data Save Our Soccer, korban kerusuhan dari tahun 1995-2016 sejumlah 54 orang. Jumlahnya tak seberapa jika dibandingkan dengan total penduduk  Indonesia hasil sensus 2010. Tapi, mengobarkan api kebencian, menanamkan permusuhan dan menampilkan banalitas di depan anak-anak kita.  Mau di bawa kemana sepak bola kita ?

*mahasiswa tingkat akhir UIN Walisongo