Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Imajinasi dan Literasi Sepak Bola Kita

5 min read

Oleh : Rais*

Sepak bola itu sederhana, tafsiran-tafsirannyalah yang hebat, menyadur ungkapan Pramoedya Anantatoer.

Gambaran tafsiran hebat para pemain si kulit bundar, saat pemain tengah Brazil era 80 an, Socrates saat memberi salam kepada pecinta sepak bola Brazil. Ia mengatakan bahwa sepak bola hanya pertarungan gladiator berdurasi 90 menit, setelahnya kita saudara. Kisah cinta Francesco Totti terhadap I Lupi sepanjang karir sepak bolanya dan tangisan Lionel Messi setelah dua kali kalah dan berniat pensiun pasca Final Copa America melawan Chile. Semuanya peristiwa yang tak akan lekang oleh waktu.

Olahraga yang menjadi primadona setengah warga bumi, tak sekadar menyajikan tontonan penari lapangan hijau, ada  juga tuntutnan yang keluar dari setiap individu. Kita bisa tersihir oleh gocekan Pelle dan tendangan gunting  Widodo Cahyo Putra. Tak sedikit orang juga mengakui Maradona sebagai titisan Tuhan Yesus melalui simbol nama Gereja Iglesia Maradona di bilangan Argentina.

Kisah-kisah itu bisa dirangkai oleh siapapun. Tak ada  batasan, siapa dia dan jabatan apa yang menempel pada dirinya untuk membicarakan soal bola di dalam maupun di luar lapangan. Ibarat “sosialisme”, sepak bola bisa menjadi bagian “sosialisme gosip” tanpa melihat.  

Jauh dari hiruk-pikuk gosip di warung kopi, sepak bola juga menjadi diskusi multidisipliner dikalangan akademisi. Mereka yang memulai karir dari  pendidikan jasmani dan keolahragaan (PJKO) hingga sejarah sekalipun. Semuanya berhak atas  penafsiran sepak bola.

Keindahan yang penulis kagumi terhadap tafsir gerakan solo run Diego “Armando” Maradona saat  melewati Peter Beardsley dan Terr Butcer kala Argentina bersua Inggris di tahun 1986.  

Zen Rs dalam buku Simulakra Sepak Bola menggambarkan solo run  Maradona melewati tujuh pemain, dalam disiplin ilmu tari balet dengan gerakan grand jete. Gocekan Si Tangan Tuhan dalam melewati Terr Butcer dan dua kali melewati Peter Beardsley dengan jarak solo run sepanjang 60 meter dengan gerakan bak penari balet di atas panggung.   

Tulisan yang berawal diskusi dengan istirnya, Galuh.  Bahwa Gerakan grand jete, salah satu lompatan udara dalam tari balet. Posisi kaki kiri di udara dan kanan digunakan pijakan. Saat melayang, posisi kaki merentang di depan, kadang kaki di depan atau belakang membentuk satu garis. Gerakan ini  umumnya dilakukan oleh penari yang sudah makan asam garam.

Apakah absah gocekan Maradona ditafsirkan sedemikian rupa ? Tentu sangat debateable jika hanya mencari abasah atau tidak.  Penggila bola pada sisi lain menjadi tahu informasi tentang pemain bola yang saban minggu harus bertanding membela klub dan negaranya. Selain itu, kita disajikan fakta-fakta lain di luar lapangan.

Meski hari ini kita telah disajikan perangkat pertandingan yang serba canggih dan termutakhir. Kehausan akan cerita-cerita pesepak bola sebagai “manusia” biasanya jauh lebih menarik. Ketimbang hanya memposisikan dia sebagai “robot” yang diatur oleh allenatore demi menjalankan strategi untuk meraih hasil positif.

Kisah-kisahnya perjuangan justru kadang menjadi titik pijak suka dan duka cita para penikmatnya. Bagaimana seorang pemain bisa dalam posisi hari ini, missal mega bintang sekaliber Christian Ronaldo. Orang yang disajikan kisah-kisah pencapaiannya akan mengetahui track record pemainnya. Sisi lainnya, para peserta didik di SSB akan mengidolakan sekaligus menjadi acuan para  pelatih untuk melakukan hal terbaik saat latihan.

Sisi positif, kisah pemain sebagai “human” jauh lebih berkesan ketimbang bejibun statistik yang menempatkan dirinya sebagai “objek”. Dasarnya sebagai “subjek” tentu dia manusia merdeka yang bebas  melakukan kehendak atas pikirannya.

Dimana Literiasi Kita ?

Penulis-penulis sekaliber Yusuf Dalpin, Amir Machmud, Sindhunata, Edward S Kennedy, Fajar Junaedi yang melihat bola sebagai “objek” dengan pisau analisis disiplin ilmu masing-masing. Justru menghadirkan feature bola yang dikalangan khalayak sebagai kontekstualisasi tarian lapangan hijau. Kekuatan ini justru modal untuk membuat wajah sepak bola kita menuju kebaikan bukan keburukan.

Boleh kita melihat,  Shinji Kagawa, Keisuke Honda, atau Nakata hingga yang terbaru rekrutan anyar Los Galaticos, Kubota. Jauh sebelum nama-nama itu tenar, Jepang melalui imajinasi Tsubasa berhasil menarik minat anak-anak memainkan si kulit bundar dengan gigih. Narasi heroisme, optimisme sekaligus impian bahwa sepak bola merupaka profesi terhormat dan bermartabat.

Narasi tersebut disambut baik oleh pemandu bakat dari Eropa yang melihat kesamaan visi dengan pengembangan sepak bola di Negeri Sakura. Dani Budi Prayor mengalisisis romantisme sepak bola Jepang dengan Jerman melalui tulisan berjudul “Romantisme Jepang dan Bundeslig, Matahari yang Kian Menyingsing di Jerman”, pemain-pemain seperti Shinji Kagawa, Makoto Hasebe, dan Yasuke Ohudira dalam beradaptasi di tim-tim Eropa layaknya Tsubasa dkk menaklukkan negara-negara yang dikenal pesohor sepak bola.

Pencapaian ini yang menarik minat anak-anak untuk berusaha meningkatkan kecerdasan mental dan fisik. Didukung pengelolalaan kompetisi yang terstruktur dan terencana yang kala itu dibantu oleh Cramer saat melatih Jepang di Olimpiade 1964.

Lalu bagaimana dengan literasi sepakbola kita ? Pimred Fandom, Sirajudin Hasbi dalam tulisannya berjudul “Literasi untuk mendukung Kemajuan Sepakbola Indonesia” menunjukkan optimism literasi sepakbola Indonesia akan dilakukan terus menerus. Ia bertekad menyadarkan kepada khalyak umum bahwa sepakbola, tak sekadar skor semata.

Melalui proyek literasi sepak bola menjadi kerja-kerja peradaban. Naskah-naskah yang dipublikasikan itu akan mengedukasi sehingga mendorong sepakbola, perlu dibangun melalui piramida  pembinaan yang dijalankan.

Senanda Hasbi, Yusuf Arifin lewat tulisan “Demi Sepak bola  (Indonesia) Menulislah”, mengajak sebagian orang memilih untuk membicangkan dan menulis memang tak otomatis memajukan persepakboalan kita. Namun, tulisan itu akan menjadi contoh bagi kita sendiri yang suatu saat menjadi bagian dari sepakbola. tulisan itu juga menjadi pemacu penulis agar terus terlatih, karena tanpa berlatih tidak mungkin menghasilkan tulisan yang bagus.

Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut judul buku Miftah Fim, sudah semestinya generasi milineal yang memiliki kepedulian sepak bola.  Melawan  sebaik-baiknya adalah melalui tulisan-tulisan. Sumbangsih anak-anak muda ditengah kusutnya persepabolaan negeri ini, tentu menjadi aliran air dengan kekeringan yang tak pernah usai.

Kekuatan literasi akan menjadi menghidupkan imajinasi sepak bola kita tak sekadar besar dikelompok usia di bawah 23 tahun. Narasi akan turut membangun torehan postif bagi junior-junior yang akan memenuhi bech skuad senior.

Sisi lain, literasi sepakbola juga mengajak kepada seluruh pendukung fanatik teredukasi. Dirinya bukan semata yang disebutkan Simmon Kupper dalam “Soccernomis” sebagai konsumen. Melainkan check and balance di setiap keputusan klub. Kedewasaan ini juga akan membawa pandangan baru suporter klub di Indonesia. Salah satunya, dilakukan oleh Bonek Forum Writer saat menyambut milad ke 92, karya “Make Persebaya 92eat Again: Catatan Dari Pinggir Lapangan” menjadi kado literasi persepakbolaan Indonesia.

Pengelola sepak bola Indonesia yang semakin menua dan tak pernah tanggap terhadap masalah kekinian, justru akan masuk ke dalam kegelapan. Literasi sepak bola akan mengajak seluruh elemen membersihkan altar suci yang lama telah dinodai orang-orang yang tak tanggungjawab.

*Mahasiswa tingkat akhir di UIN Walisongo