Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Sepak Bola, Ritus Religi dan Ideologi

4 min read
Sepak Bola, Ritus Religi dan Ideologi

Oleh: Rais*

Banyak sekali tentang teori agama-agama yang sudah dijabarkan oleh para ilmuan. Agama bukan saja hadir sebagai titipan ilahiyah yang relasinya hanya hamba dengan Tuhan-nya.

Tetapi agama sering kali dilihat sebagai organisasi sosial yang bisa menghubungkan antar individu dengan individu atau individu dengan kelompok, bahkan kelompok dengan kelompok sekaligus.

Hal tersebut dalam agama Islam disebut sebagai muamalah. Pandangan tokoh-tokoh sosiolog yang mengkaji sebuah agama melahirkan beberapa teori seperti Max Weber,[1] Durkheim,[2] dan Karl Max.[3] Dalam beragama orang akan mengekspresikan atas dasar keyakinan yang dianggap benar, biasanya terlihat menggunakan simbol-simbol religi.

Begitupun dalam sepak bola, orang akan mengekspresikan agamannya saat mereka berada dalam lapangan, seperti Lionel Messi yang beragama Kristen memperagakan salib setelah mencetak goal atau Mezut Ozil yang beragama Islam selalu menengadahkan telapak tangannya dengan membaca al-fatihah.

Ketika berdoa, atau rasa syukur mereka setelah mencetak goal. Maka ritus-ritus dalam agama akan terekspresikan dalam lapangan.[4]Sesuatu yang religi dapat di representasikan melalui ajarannya seperti ibadah.

Sujudu syukur sebagai ritus selebrasi gol dengan sujud syukur, menggunakan bentuk fisik seperti bangunan masjid atau musholla dalam stadion atau secara simbolis mewakili ajaran agamanya mewakili kepercayaan agamanya.

Hal tersebut akan berimbas kepada paraa fans sepak bola yang menimbulkan kefanatikan.[5] Akhirnya sepak bola dalam budaya populer bisa mengatasnamakan apa saja, bisa juga mengatasnamakan religiusitas.

Ideologi tidak sekedar gagasan, melainkan gagasan yang diikuti dan dianut sekelompok besar manusia atau bangsa, sehingga karena itu ideologi bersifat menggerakkan manusia untuk merealisasikan gagasan tersebut.

Meskipun gagasan seseorang, betapapun ilmiah, rasional atau luhurnya, belum bisa disebut ideologi, apabila belum dianut oleh banyak orang dan diperjuangkan serta diwujudkan, dengan aksi-aksi yang berkesinambungan.

Dalam paham fasisme, nasionalisme sebagai ideologi pendorong utama namun bersifat ultra-nasionalisme atau semangat nasionalisme yang berlebihan. Sebenarnya, fasisme lebih cenderung merupakan gaya politik dan pemerintahan daripada dipandang sebagai ideologi (seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama).

Paham ini merupakan tipe nasionalisme yang romantis dengan segala simbol dan kemegahan upacara untuk mencapai kebesaran bangsa dan negara.[6] Kelompok ini diwakili oleh klub Samdoria kala itu.

Sedangkan Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx pada abad ke-18. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik.

Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Marxisme mencakup materialisme dialektis dan materialisme historis serta penerapannya pada kehidupan sosial yang para Marxis yakini dapat tercapai dengan gagasan Sosialisme Ilmiah.[7] Salah satu klub penentang fasis adalah Livorno yang beraliran Marxisme.

Politisasi hingga Kapitalisasi Media

Jika sepakat bahwa popularitas adalah salah satu modal terpenting seseorang untuk berkiprah di kancah politik, tentunya kita akan mengamini bahwa sepakbola memiliki daya tarik tersendiri.

Maka, akan sangat wajar jika seseorang yang tengah memegang kekuasaan akan sebisa mungkin mengoptimalkan apa yang bisa dia optimalkan. Termasuk di antaranya adalah akses dan kuasa terkait sepakbola yang sangat menarik perhatian publik.

Begitu pun sebaliknya. Politik yang dimaknai sebagai cara untuk mencapai dan mengelola kekuasaan sesungguhnya akan merasa tak berdosa menjadikan kepopuleran sepakbola sebagai alat untuk menuju kekuasaan.[8]

Lain halnya dengan politik, dalam media massa sepak bola memang dijadikan lahan bisnis empuk oleh media massa, terutama industri pertelevisian. Televisi merupakan media massa yang masih menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan segala informasi, sebab dapat digunakan secara mudah.

Berbagai carapun dilakukan oleh industri televisi untuk menyuguhkan tayangan sepak bola yang menarik ditonton masyarakat. Dari segi pemberitaan sepak bola yang berlebih-lebihan hingga pada kecenderungan pemberitaan yang terkhususkan pada pemain dan klub sepak bola tertentu.

Selain itu memonopoli hak siar masih menjadi permasalahan sendiri bagi industri pertelevisian dan sepak bola. Memonopoli hak siar hanya akan menguntungkan salah satu stasiun televisi semata. Dari berbagai persoalan tersebut, sepak bola menjadi kehilangan ekssistensi dan substansinya.

Karena sepak bola hanya dimanfaatkan untuk memperkaya industri pertelevisian semata. Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana penyamarataan dalam penayangan pertandingan harus dilakukan. Dengan jalan tersebut, kemajuan klub-klub sepak bola pun juga akan merata.

Sepak bola sungguh memang olahraga yang luar biasa. Tiada sekat antara pria dan wanita, besar dan kecil, tua dan muda, ataupun si kaya dan si miskin, untuk saling menyukai bahkan memainkanya pula. Sepakbola tumbuh dan berkembang selalu di dalam konteks ruang dan waktu.

Permainan ini berkembang seiring perkembangan zaman, juga tumbuh di tengah dan bersama sejarah yang berlari.Persoalan sepakbola bukan hanya menyangkut menang atau kalah dalam laga yang ditentukan di sembilan puluh menit waktu normal.

Jauh dari itu ada banyak hal yang mengitari dalam berjalannya pertandingan antara dua kesebelasan di atas lapangan hijau. “Sepak bola lebih sekedar 90 menit di lapangan hijau” seperti halnya diungkapkan oleh Presiden FIFA, Sepp Blater. Semula yang tidak akan mungkin terjadi, semuanya akan melebur menjadi satu, sesuatu yang bernama sepakbola.

*Mahasiswa tingkat akhir di UIN Walisongo



Referensi

[1] Max Weber, Sosiologi Agama (sosiologhy of Religion), Jogjakarta: IRCiSoD, 2012. Max Weber berasal dari Jerman, selalu berusaha memberikan pengertian mengenai prilaku manusia dan sekaligus menelaah sebab-sebab terjadinya interaksi sosial. Disamping terkenal dengan metodenya tentang Method Of Understanding dia juga terkenal dalam teori ideal typus, ideal typus merupakan suatu kontruksi dalam pikirian seorang peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis gejala-gejala dalam masyarkat. Ajaran Max Weber menymbang dalam berbagai bidang sosiologi seperti tentang wewenang, birokrasi,  sosiologi Agama, organisasi-organisasi eknomi karyanya sangat banyak dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Soerjono Soekanto, dkk,  Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2015, hlm 352

[2] Emile Durkheim, The Elementary Forms of Religious Life New York: Charles Scribner’s Sons, 1976. Durkheim meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses soial. Dia mengklasifikasikan pembagian sosiologi atas tujuh seksi, yaitu. a. Sosiologi umum yang mencakup keperibadian individu dan kelompok b. Sosiologi agama, c. Sosiologi hukum dan moral mencakup organisasi politik, organisasi sosial, perkawinan dan keluarga, c. Sosiologi tentang kejahatan, e. Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja. f. Demografi yang mencakup masyarakat perkotaan dan pedesaan. g. Sosiologi estetika.

[3] Robet C Tucker, The Marx-Enggels Reader, London New York: Norton Company, 1878

[4] Iswandi Syahputra, Pemuja Sepak Bola Jakarta: Kpustakaan populer Gramedia,  2016, hlm 88

[5] Iswandi Syahputra, Pemuja Sepak Bola Jakarta: Kpustakaan populer Gramedia,  2016, hlm 91

[6] Harun Yahya. 2004. Menyikap Tabir Fasisme, Ideologi Darwinisme yang Mengguncang Dunia. Bandung : Dzikra, hlm. 2

[7] Wiliam Ebenstain, 2006, Isme-isme yang Mengguncang Dunia, Yogyakarta: Narasi

[8] http://www.panditfootball.com/pandit-sharing/159237//140711/keniscayaan-politik-dalam-sepakbola