Tue. Dec 1st, 2020

Marjin Bola

More than football

Nyawa, Corona dan Liga Kita

3 min read

kredit foto : Media Indonesia

Oleh : Rais*

marjinbola.com Pandemik Covid-19  menjadi alarm bagi penguhuni bumi. Manusia idealnya bisa melewati virus yang bermula dari Wuhan, Tiongkok. Seluruhnya menjadi saling bantu bukan berubah memangsa lainya.

Sekelibat virus ini melumpuhkan perdagangan, pelayanan pemerintahan, hingga destinasi hiburan yang terdampak efek pandemik satu ini. Tak terkecuali dunia sepak bola. Olahraga yang mahfum mengumpulkan massa itu  perlahan dihentikan. Mulai dari Liga Italia hingga Indonesia harus “berdamai” dengan keadaan.

Di bumi nusantara, titik mula penundaan Shoppe Liga 1 tersiar sejak penundaan laga Persija vs Persebaya pada Sabtu, (7/3/2020). Muasalnya, surat edaran resmi yang dikeluarkan oleh Pemprov DKI  tentang antisipasi Pemprov DKI penyebaran virus Covid-19 di tanah air. Saat itu, sudah ada dua orang Indonesia postif Covid-19.

Pro dan kontra penundaan laga ini mencuat di publik, kala itu. Namun, ikhtiar tidak mengumpulkan massa (suporter) dalam jumlah banyak tentu bukan sesuatu yang harus diapresiasi. Ia menjadi langkah preventif bagi pemain dan penikmat sepak bola.

Liga 1 dan Liga 2 musim 2020 resmi ditunda selama dua pekan. Virus Covid-19 yang sebarannya mulai meuas menjadi alasan utamanya.  Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan meminta PT. LIB untuk segera Menyusun ulang jadwal ulang pertandingan.

“Setelah berkoordinasi dengan Menpora, PT. LIB dan Exco PSSI pada Minggu lalu, kami putuskan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 yang sudah terjadwal, minimal ditunda dua pekan sembari menanti perkembangan terkini atas persebara virus Covid-19,” ujarnya melalui laman resmi PSSI pada Minggu (15/03/2019)

Tak hanya kontestasi liga saja yang terkena dampak virus yang bermula dari Wuhan, China itu. Pemusatan timnas Indonesia U-19 pun ditunda.

Sebelum Indonesia, Liga Malaysia telah mengambil tindakan penundaan pertandingan. FAM selaku induk sepak bola tertinggi menghentikan seluruh kompetisi, Malaysia Super League, Malaysia Premier League, kompetisi amatir, kejuaran sepak bola junio hingga futsal.

Sama halnya dengan Indonesia, Malaysia menjadwal ulang pemusatan latihan Timnas Malaysia yang berencana uji tanding  pada bulan ini. Sementara Singapura Premier League, Vietnam League digelar tanpa penonton sedang Toyota Thai League dan Filiphina League ditunda.

Keputusan ini menjadi babak baru perhelatan sepak bola di kawasan Asia Tenggara. Sebab menurut  wordometersinfo (yang diakses pada 17/03/2020) mengungkapkan total kasus di negara Indonesia  (134), Thailand (147), Vietnam (61), Malaysia (566), Filiphina (142), Singapura (243),

Data-data di atas memang tak menggambarkan begitu serius jika dibandingkan dengan kasus di Cina, Iran, dan Italia. Namun, apakah demi sepak bola nyawa manusia lantas bisa dikorbankan begitu saja ? Lalu apakah demi euforia di tribun suporter harus berbodong-bondong ke stadion ? Apakah sepak bola yang notabene hiburan menjadi  “jalan” percepatan Covid-19 ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu bisa menjadi pertimbangan klub-klub sepak bola untuk sejenak menghentikan aktivitas yang membentuk kerumunan. Covid-19 merupakan virus yang benar-benar baru. Menunda sementara perhelatan liga bukan persoalan “lebay” menghadapi pandemik, melainkan keselamatan bersama.

Tetap di Rumah

“Everything will be fine. Stay safe at home,” tulis penyeran Sassuolo, Francesco Caputo setelah  mencetak gol saat bersua Brescia di Seria A.

Selebrasi penyerang berusia 32 tahun itu mungkin biasa-biasa saja jika dilakukan saat hari-hari biasa. Momenlah yang membuat  cara merayakan golnya istimewa. Penari lapangan hijau yang notabene mengembang harapan para suporter tentu itu menjadi dukungan moral. Ditengah situasi di Italia yang baru saja memutuskan untuk “lockdown” pada Jum’at, (13/03/2020).

Seruan untuk bekerja di rumah (work from home) sejak Senin, (16/03/2020) oleh institusi di Indonesia seharusnya dimanfaatkan oleh setiap tim. Ia menjadi waktu untuk rehat dan memikirkan kembali setiap keputusan-keputasan dalam maupun luar bersama klub.

Memandang remeh penyebara Covid-19 yang telah menggurita di seluruh jagad raya bukan menjadi pilihan. Kewajiban setiap orang yang terlibat di dunia sepak bola untuk melakukan  pencegahan dan menangani bagi yang sudah dinyatakan suspect.

“Nyawa tak bisa di tukar dengan bola” kira-kira penulis menyarankan kepada seluruh penggemar sepak bola tanah air demikian. Perlu diingat, kondisi masyarakat kita melihat olahraga berpotensi mengundang massa dalam jumlah besar.

Mari bersama-sama lupakan aspek bisnis yang sifatnya kalkulatif dan jangka pendek, melihat nyawa bersama sebagai taruhan jika kegiatan sepak bola itu terus berjalan.   Segala penundaan yang ada liga 1 akan mendatangkan efek negatif. Keselamatan seluruh warga yang telibat dalam sepak bola menjadi utama tak harus menyesali efek-efek lainnya.

*Mahasiswa Tingkat Akhir di UIN Walisongo