Mon. Jun 14th, 2021

Stadion, Ruang Kontestasi Ideologi

Stadion, Ruang Kontestasi Ideologi

Oleh : Tedi Kholiludin (Direktur marjinbola.com)

Setiap kali mendapatkan kesempatan untuk menjual diri alias kampanye, partai politik pasti akan memanfaatkan ruang yang selonggar mungkin. Salah satunya adalah stadion sepakbola. Meski sesekali menggunakan ruang tertutup, tapi  tempat terbuka menjadi favorit. Masa akan lebih banyak dikumpulkan. Apalagi jika ditambah dengan suguhan hiburan musik selera rakyat.


Saat kecil, momen ini pernah saya alami. “Karir” sebagai penggembira kala kampanye dimulai pada pemilihan umum (pemilu) 1992, 1997 dan 1999. Setelah itu jadi penonton hingga sekarang. Dan selalu menjadi menarik saat kampanye digelar di lapangan sepakbola. Entah lapangan kelas desa atau kelurahan atau stadion berlevel kabupaten. Pendek kata, lapangan bola atau stadion adalah ruang kontes yang paling telanjang bagi pergulatan kepentingan politik pada saat kampanye pemilu.

Jadi tak mengherankan jika ramai kita lihat belakangan ini, beberapa partai politik menggunakan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) untuk kampanye terbuka. Teranyar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuka gelaran pemilu 2014 dengan berkampanye di GBK.

Tak Cuma PKS yang pernah menggunakan GBK. Minggu, 2/6/2013 yang jelas-jelas berseberangan dengan dasar negara Pancasila, juga menggunakan stadion kebanggaan bangsa ini untuk melaksanakan Muktamar Khilafah. Nahdlatul Ulama (NU) dalam peringatan hari lahir mereka yang ke 85, juga menggunakan stadion ini.

Jika percakapan kita tentang stadion dan lapangan bola itu diciutkan menjadi bahasan mengenai GBK, menjadi sangat mudah mengaitkan arena itu dengan politik. Soekarno, presiden Republik Indonesia yang pertama tak hanya membangun stadion ini sebagai lapangan sepakbola lengkap dengan fasilitas olahraga lain di sekitarnya, tetapi ada nilai juang politik yang terbersit di baliknya. Jika kita membaca sejarah, akan  sangat mudah mendapati hal tersebut.
***

Dalam Memoirs of Nikhita Khruschev (diedit oleh Serghei Khruschev, volume 3 [1953-1964] Pensylvania University Press: 2007) disebutkan banyak momen antara Soekarno dan Kruschev. Tahun 1956 misalnya, Presiden Soekarno mengadakan kunjungan selama di Uni Soviet. Periode itu adalah masa romantisnya hubungan Indonesia dan Soviet. Soekarno bertemu dengan Perdana Menteri Nikhita Kruschev pada akhir Agustus.

Memoar Khruschev juga mencatat pertemuan mereka di tahun 1961. Soekarno diterima Kruschev pada 9 Juni. Setelah dijamu pada esok harinya, Kruschev dan Soekarno menonton sebuah pertandingan sepakbola di Stadion Luzhniki dan dilanjutkan dengan Moskva-Cheryomushki di Teater.
Rupanya pada tahun 1958 telah disetujui pemberian kredit lunak kepada Indonesia oleh Soviet untuk pembangunan sebuah stadion.

Jumlahnya, 12,5 juta dollar AS. Indonesia menyetujui untuk membangun stadion dan fasilitas lainnya sebagai salah satu syarat kesiapan tuan rumah Asian Games IV pada 1962.

Tanggal 8 Februari 1960, stadion ini mulai dibangun. Dadang Soeprajogi yang saat itu ditunjuk sebagai Komandan KUPAG (Komando Urusan Pembangunan Asian Games) menyebut pembangunan stadion ini sebagai  “Merupakan sebuah komando dari panglima tertinggi/pemimpin besar revolusi kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa pembanguna raksasa kompleks Asian Games telah dimulai.” (Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, hlm. 21)


Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games memang agak sedikit berbau keberuntungan. Kontingen Indonesia yang saat itu diwakili oleh Sri Paku Alam VII, Maladi dan dr. Abdul Halim merasa bahwa Jakarta sesungguhnya kurang siap dibanding Karachi (Pakistan) dan Taiwan. Para anggota Asian Games Federation yang berkumpul di Tokyo saat itu (tahun 1958) menilai Jakarta belum memiliki fasilitas bertaraf internasional. Dalam posisi sebagai underdog, Jakarta justru memenangkan persaingan dengan Karachi. Indonesia dipilih oleh 22 anggota, unggul dua suara dari Karachi.

Pembangunan stadion taraf internasional di Indonesia, kata Soekarno tak hanya sebagai sarana olahraga semata. Ia merupakan investasi sosial serta politik Indonesia di kancah dunia. Dilihat dari desainnya, tak salah memang jika menyebut kalau stadion di Senayan yang kelak bernama GBK ini mirip dengan Stadion Luzhniki di Moskow. Khruschev tak hanya melihat langsung maket dari stadion tapi juga menancapkan secara simbolis tiang ke seratus. Persekawanan Soekarno dengan Khruschev tentu tak semata-mata kepentingan dua negara tanpa ideologi. Ada nilai perjuangan yang hendak mereka satukan, melawan imperialisme. Ini salah satu bagian kecil saja dari upaya itu.

Singkat cerita, Soekarno meresmikan stadion pada jam 17.00, 21 Juli 1962. Selain peresmian, hari itu juga dilaksanakan gladi resik pembukaan Asian Games IV. “Nah aku sekarang bertanya kepada saudara-saudara sekalian, apakah engkau tidak bangga punya stadion seperti ini? Apakah engkau tidak bangga bahwa stadion yang hebat ini milik bangsa Indonesia?” begitu pidato pembukaan disampaikan oleh Soekarno. Menggelegar, penuh retorika dan membakar semangat masyarakat. (Dari Gelora Bung Karno, 18)

Asian Games kemudian dilaksanakan pada 24 Agustus-4 September 1962. Indonesia tak hanya sukses sebagai tuan rumah tapi juga berprestasi. Mereka ada di urutan kedua di bawah Jepang. Jika dalam penyelenggaraan sebelumnya kontingen Indonesia hanya meraih perunggu, di Jakarta mereka mendulang 11 emas, 12 perak dan 28 perunggu. Moh Sarengat menjadi manusia tercepat Asia dengan menyabet emas di nomor 100 meter putera. Peserta Asian Games saat itu berjumlah 20 negara.

Tapi, berita tak sedap kemudian mengiringi kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah kali pertama Asian Games itu. G.D Sondhi wakil presiden Asian Games Federation dan menjadi wakil India untuk IOC (International Olympic Committee) mempermasalahkan tidak diikutsertakannya Israel dan Taiwan dalam Asian Games.  

Israel dan Taiwan adalah negara yang diakui keanggotaannya oleh IOC. Dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno disebutkan bahwa dua negara itu sudah dikirimi undangan. Bahkan wakil Taiwan di Komite Eksekutif Asian Games Federation juga datang meninjau kesiapan Indonesia (53-54).

Sementara, penulis buku India and the Olympics, Boria Majumdar dan Nalin Mehta (2009) menyebut kalau Indonesia sebagai tuan rumah memang memberi undangan. Tapi paket yang harusnya berisi identitas peserta dan lainnya ternyata kosong (halaman 122)

Di luar itu, kita tahu kalau Soekarno begitu anti imperialisme. Israel yang menjajah Palestina dimusuhi Soekarno. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina beloem diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itoelah bangsa indonesia berdiri menantang pendjadjahan Israel” kata Soekarno di tahun 1962. Sementara tentu saja ada alasan politik dibalik “penolakan” Taiwan. Soekarno begitu dekat dengan Republik Cina.

Ternyata laporan Sondhi berimbas pada dicoretnya keanggotaan Indonesia di IOC. Lalu Soekarno menyelenggarakan Ganefo (Games of the new emerging forces)  dua tahun kemudian. Dan kembali, stadion senayan menjadi saksi betapa kuasa politik hadir di “Luzhniki”nya Indonesia. Cerita tentang Ganefo nanti saya tulis di catatan berikut.
***

Soekarno begitu dekat dengan Republik Cina.
Ternyata laporan Sondhi berimbas pada dicoretnya keanggotaan Indonesia di IOC. Lalu Soekarno menyelenggarakan Ganefo (Games of the new emerging forces)  dua tahun kemudian. Dan kembali, stadion senayan menjadi saksi betapa kuasa politik hadir di “Luzhniki”nya Indonesia. Cerita tentang Ganefo nanti saya tulis di catatan berikut.
***

Lahir berhimpitan dengan kepentingan politik, Stadion Senayan seperti ditakdirkan menjadi area kontestasi politik. 23 Mei 1965, Partai Komunis Indonesia dibawah komando Dipa Nusantara (DN) Aidit menggelorakan senayan. Mereka memperingati hari ulang tahunnya yang ke 45. Saat itu, jumlah anggota PKI lengkap dengan Pemuda Rakjat, SOBSI (buruh), Lekra (kesenian) dan organ yang berafiliasi kepada mereka kurang lebih mencapai 27juta.

Politbiro PKI dalam ulang tahun yang ke 45 itu menyebut kalau “kapitalis birokratik” dituduh tengah menyiapkan kudeta. Belum ada handphone atau blackberry kala itu. Juga belum terlalu familiar penggunaan internet. Koran dan media lain pun sangat terbatas penggunanya. Tapi hari ulang tahun PKI itu mampu menyedot setidaknya 100 ribu simpatisan partai berlambang palu dan arit itu.


PKI yang komunis dan PKS yang Islamis memanfaatkan ruang yang sama untuk berebut pengaruh. NU yang tradisionalis dan Masyumi yang modernis juga bertarung di stadion. Jadi, tak perlu bangga telah “memutihkan” Senayan. Dulu, PKI juga mem”palu-aritkan” (istilahnya Kang Zen RS) Luzhniki, eh Senayan.

Tulisan ini pertama kali terbit pada laman pribadi blog Tedi Kholiludin