Tue. Dec 1st, 2020

Marjin Bola

More than football

Apakah #SimonOut Jadi Solusi ?

3 min read
Apakah #SimonOut Jadi Solusi ?

Kredit foto : batamnews.com

Oleh : Fadli Rais (Redaktur marjinbola.com)

Teriakan dan kampanye #simonout di jagad nyata sekaligus maya tampaknya akan sia-sia. Bagi suporter, Simon Mc Menemy sudah kadung blunder dalam menangani Timnas Indonesia. Empat kekalahan beruntung  mengantarkan skuad Garuda duduk di dasar klasmen dengan poin 0. Gawang timnas menjadi produktif setelah semua kontestan berhasil menceploskan lebih dari dua setiap bersua baik tandang maupun kendang.

Malaysia berhasil menceploskan tiga gol, Thailand tiga gol, Uni Emirat Arab lima gol, terakhir Vietnam tiga gol. Mengapa performa Timnas bisa sedemikian bobrok ?

Melihat fenomena merosotnya performa timnas tidak hanya tanggung jawab Simon Mc Menemy dkk. Ada satu raksasa besar yang patut dikoreksi bernama, PSSI. Jangan lepas tangan dari masalah timnas -apalagi senior- hingga bisa bobrok sedemikian rupa.

PSSI yang akan melakukan pemilihan ketua dalam waktu dekat ini. Patut dikoreksi kinerjanya selama ini. Jangan-jangan PSSI disetiap pertandingan Timnas hanya menjadi event organizer yang ingin pundi-pundi tiket masuk ke kantongnya ? Atau memang tidak ada niatan untuk memperbaiki keberadaan persepakbolaan tanah air melalui kuasanya ?

Adanya masalah di PSSI, yang seharusnya bicara adalah suporter. Mengapa suporter ? Mereka sekalian korban “sadisme” PSSI setiap menampilkan timnas senior sedangkan penonton menjadi “masokistik” belasan kali.

Saya sadar, suporter menjadi barang lama yang akan terus menyuarakan kritik terhadap PSSI. Apalagi suporter-suporter yang klubnya pernah menjadi korban manuver PSSI.

Maka dari itu revolusi PSSI, akan menggelora jika setiap fans klub turun dan menyuarakan revolusi di tubuh PSSI. Terkesan menggebu-gebu, namun penulis sadar. Setiap fans sepak bola Indonesia rata-rata berangkat dari ekonomi menengah ke bawah atau menengah.

Jadi, para suporter membutuhkan penghidupan. Di setiap harinya, mereka akan sibuk mencari nafkah dan lain-lain. Seolah vis a vis antara menjadi fans fanatik yang follow ketimbang check and balance.

Permasalahan suporter juga tidak selesai soal tebal tipisnya kantong. Perkara permusuhan yang tak kunjung -pernah- usai. Sudah banyak usaha-usaha untuk menyelesaikan melalui rekonsiliasi antar pengurus, klub hingga pemiliki klub. Lagi-lagi ingatan saling hajar dan catatan balas dendam lebih diingat ketimbang bersatu saling menggugat PSSI.

Penulis membayangkan setiap bendera dan suporter berdampingan di depan Kantor PSSI. Semuanya terdiri dari satu kordinasi lapangan yang menuntut PSSI direformasi. Bukan baru memang, tapi ini akan menjadi tonggak awal persatuan suporter di Indonesia.

Kedua, kalau tho tidak bisa, Wartawan Jawa Pos, Ilham menyarankan, suporter sebaiknya selalu memenuhi  stadion. Siapkan tulisan-tulisan kritik terhadap PSSI. Taruh ditempat-tempat strategis yang memungkin kamera akan menyorotnya.

Sindirian halus itu memang akan berbuah denda bagi klub. Namun, lewat cara inilah klub (voter) sadar bahwa dirinya harus ikut merombak kedalaman PSSI. Pasalnya PSSI, juga akan tersindri lewat suara-suara ini.

Kita jamak mafhum dengan permasalahan suporter yang kian hari makin kritis terhadap keputusan-keputusan yang di ambil oleh klub. Mulai dari pemilihan apparel hingga pemecatan klub, para fans mulai angkat bicara melalui berbagai platform.

Kritisisme suporter bukan tanpa sebab. PSSI memantik perkara ini dengan suporter. Hal yang paling mencolok, terkait denda hingga jadwal tunda tiba-tiba. Seperti tidak ada jeranya, PSSI juga sangat sulit disentuh publik karena tafisirannya, exco PSSI dipilih oleh voters. Maka hierarkis pertanggungjawabannya dengan voters bukan publik.

Kita sebagai suporter harus buka mata. Jangan hanya merasa nyaman ketika klub kesayangan bisa main sesuai jadwal kemudian lupa akan dosa-dosa PSSI. Percayalah bencana Timnas Indonesia akan berakhir kalau kita bergandeng dan bersuara bersama. Saling tegur sapa dan mengingatkan, kalau yang lain amnesia diingatkan. Sudahi permusuhan perbanyak kasih sayang. Cukup sudah.