Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Sejarah Derby Zimbabwe: Politik, Etno-Regionalisme, Hingga Media Sosial (Bag. 2-Habis)

3 min read



Begitu kentalnya aspek etnis (baik di dalam maupun di luar lapangan) dalam derby Zimbabwe tersebut tidak serta merta menjadikan kita dapat menyederhanakan pokok permasalahannya hanya pada aspek etnis, karena banyak dari pendukung Highlanders yang juga merupakan orang Shona begitupun sebaliknya, banyak Pendukung Dynamos yang berasal dari etnis Ndebele. Sehingga rivalitas kedua kelompok suporter tersebut lebih kompleks dari sebuah sentimen etnis semata.

 Dari segi politik dan sejarah masyarakat Zimbabwe baik di era kolonial maupun pasca-kolonial kehadiran klub sepakbola Highlanders F.C dan Dynamos F.C. juga erat kaitannya dengan pilihan partai politik. Dimana Dynamos F.C. selalu dihubungkan dengan partai Nasionalis Zimbabwe African National Union (ZANU) sedangkan Highlanders F.C. dihubungkan dengan partai Zimbabwe African Peoples Union (ZAPU).

Aspek politik dalam rivalitas tersebut cenderung lebih ditonjolkan oleh fans lewat media sosial. Seperti komen salah satu fans Dynamos di salah satu media sosial saat pertandingan derby Zimbabwe tersebut berakhir seri: “Ref aka toitira mandevere favour, cz dai game rakapera rakadaro, nhasi pairohwa munhu ne Chipangano (The referee actually did these Ndebeles a favour, because if the game had finished like this, they were going to be beaten by Chipangano).

 Chipanganosendiri dilansir dari daily newsmerupakan organisasi paramiliter beranggotakan anak-anak muda simpatisan Partai ZANU yang bermarkas di Mbare, Harare. Contoh lainnya, chants atau lagu-lagu yang digunakan pendukung Dynamos meminjam lirik lagu dari mars politik yang digunakan oleh partai ZANU.

Aspek regional pun turut menjadi faktor yang memengaruhi rivalitas derby Zimbabwe. Hal ini didasari oleh letak Dynamos F.C yang bermarkas di ibu kota Harare sedangkan Highlanders F.C berada di Bulawayo. Sehingga muncul sentimen kepada Dynamos F.C yang berada di ibu kota. Namun aspek ini hanyalah bumbu-bumbu yang membuat persaingan kedua tim semakin memanas tiap musimnya.

Warna tim juga merupakan bagian dari aspek penting identitas penggemar di derby Zimbabwe. Dynamo memiliki warna biru dan putih sebagai warna utama mereka sementara Highlanders memiliki warna hitam dan putih. Penggemar cenderung mengidentifikasi dan menempatkan makna ke dalam warna-warna tersebut.

Penggemar Dynamos melihat warna biru sebagai simbol utama tim. Meskipun tidak ada penggemar yang yakin betul mengapa tim memilih warna biru, mereka sebagian besar setuju bahwa warna tersebut itu melambangkan langit (yang juga berwarna biru). Bagi beberapa penggemar, Dynamos dapat dikatakan seperti langit yang menutupi seluruh dunia. Hal in menggambarkan bagaimana penggemar Dynamos percaya bahwa tim mereka adalah yang terbaik di dunia.

Bagi tim yang bermain di negara kecil seperti Zimbabwe, ketenaran di tingkat dunia hanyalah mimpi, namun bagi para penggemar tim yang mereka dukung seperti Dynamos, klub dapat berarti dunia bagi mereka. Untuk menunjukkan pentingnya warna biru, salah seorang penggemar Dynamos mengatakan bahwa, ‘jika Tuhan membenci Dynamos, Dia tidak akan membuat langit biru.’

Sedangkan bagi para pendukung Highlanders, warna hitam terkait langsung dengan salah julukan mereka yakni Amhlolanyama yang didasarkan pada spesies burung (Butcher Bird) yang terkenal di Ndebele sebagai iHlolanyama, dimana memang bulu dari burung tersebut berwarna hitam dan putih. Kita dapat melihat bagaimana warna tim memiliki peran siginifikan dalam kaitannya dengan aspek kultural derby Zimbabwe.

Aspek-aspek diatas semakin menjadi ketika media turut mengekspos dan menggunakan istilah-istilah provokatif dalam berbagai headlineberita terkait derby antara Highlanders F.C. dan Dynamos F.C. tersebut.Headline berita seringkali memanaskan derbyzimbabwe tersebut lewat istilah-istilah perang seperti “The battle of Zimbabwe”, “When giants meet”, “Ninety minutes of hell”, atau “A Blood and Thunder encounter expected”.

Berita pasca pertandingan yang juga tidak kalah provokatif dan menyudutkan klub yang kalah seperti “Massacre at Rufaro”(metafora perang yang menegaskan kemenangan Dynamos atas Highlanders) atau “Bosso Humiliated” yang cenderung menegaskan kekalahan salah satu tim. Media hype dan ulah beberapa surat kabar tersebut menyebabkan kebencian antar kedua kelompok pendukung dalam derbyZimbabwe tersebut terpelihara hingga saat ini.

Mahasiswa S3, pelatih basket, dan pecinta sepakbola paruh waktu. bisa dihubungi lewat akun twitter di @Ngandre_