Sun. Oct 25th, 2020

Marjin Bola

More than football

Sejarah Derby Zimbabwe: Politik, Etno-Regionalisme, Hingga Media Sosial (Bag. 1)

3 min read

Kredit foto : www.chronicle.co.zw


Oleh : AndreSatrya 
Rivalitas antar suporter atau fans sudah menjadi fonemena global dimanapun olahraga sepakbola berada. Hal ini sering berjalan bersamaan dengan rivalitas antara dua klub sepakbola yang sedang bertanding di lapangan hijau. Negara Zimbabwe tidak terlepas dari pengaruh fenomena rivalitas serta derbyolahraga sepakbola tersebut.

Di benua Afrika, negara Zimbabwe bukanlah negara yang dapat dikatakan “terkenal” prestasi olahraga sepakbolanya (dibandingkan dengan negara seperti Senegal, Nigeria, Mesir, atau Pantai Gading). Namun Zimbabwe dan kultur sepakbolanya menghadirkan warna tersendiri dalam fenomena rivalitas atau derby pada sepakbola lokal negara tersebut.

Adalah derby Zimbabwe, antara Highlanders F.C. serta Dynamos F.C. yang euforia rivalitas antar klub serta pendukungnya tidak kalah menarik dibanding rivalitas atau derby lain di Afrika (seperti rivalitas Al Ahly vs Zamalek), Eropa (El Clasico, Barcelona vs Real Madrid) atau Amerika Selatan (El Superclásico, Boca Juniors vs River Plate).

Sepakbola di Zimbabwe pertama kali diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial Inggris sebagai upaya untuk menguasai aspek rekreasi penduduk lokal, namun penduduk setempat segera menemukan bahwa sepakbola dapat menjadi simbol untuk melawan kekuasaan kolonial kulit putih.

 Klub sepakbola Dynamos dapat dibilang sebagai klub sepakbola yang paling banyak pendukungnya di Zimbabwe. Dynamos didirikan pada tahun 1963 di Mbare. Mbare (Harare) adalah salah satu Kotapraja Afrika, tepatnya di Rhodesia era kolonial yang merupakan perkampungan kulit hitam di era tahun 1907.

Klub sepakbola Dynamos, didirikan sebagai tantangan langsung terhadap administrasi kolonial dan penerapan kebijakan proto-apartheid. Permainan Dynamo menjadi sarana orang-orang Afrika perkotaan agar dapat menunjukkan kekuatan dan ketahanan mereka terhadap dominasi kulit putih. Perkembangan klub sepak bola Dynamos disisi lain sangat identik dengan identitas kelas pekerja proletariat yang mendominasi kota-kota perkotaan Afrika selama periode kolonial. Klub sepakbola Dynamos memenangkan Rhodesian Premiere Soccer League pada tahun pembentukannya, mengalahkan klub sepakbola Salisbury Callies yang didominasi kulit putih.

Klub sepakbola Highlanders dibentuk pada tahun 1926 oleh dua cucu lelaki Raja Ndebele, Lobengula, Albert dan Rhodes. Lions F.C., (nama klub cikal bakal Highlanders F.C.) yang sebagian besar pemainnya merupakan anak laki-laki yang lahir di Makokoba, Kota Hitam tertua di Bulawayo. Bulawayo sendiri didirikan sebagai ibukota negara Ndebele pada era pra-kolonial, sehingga klub sepakbola Highlanders dianggap sebagai salah satu simbol nasionalisme Ndebele.

Penggemar dan pemain Highlanders tidak hanya mewakili tradisi dari Bulawayo, melainkan juga sebagai perwujudan warisan budaya, otoritas, dan gagasan yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi. Pada tahun 1936 pihak klub mengubah namanya menjadi Matabeleland Highlanders, nama yang sangat erat dengan kelompok etnis Ndebele.

Persaingan antara Highlanders F.C. serta Dynamos F.C. jika dilihat dari sejarah pembentukan klubnya, merupakan bagian dari perkembangan masyarakat Zimbabwe era pasca-kolonial. Persaingan antara kedua klub tersebut beserta kelompok suporternya selalu dikaitkan dengan isu etnisitas dan politik. Dimana suporter dan orang-orang dibalik Highlanders F.C. umumnya didominasi oleh etnis Ndebele sedangkan Dynamos F.C. dekat dengan etnis Shona.

Hal ini terlihat jelas melalui komen dan konten-konten facebook atau media sosial lainnya yang menggunakan makian vulgar berbau etnis yang diarahkan satu sama lain. Salah satu contoh, Para pendukung Highlanders mengunggah post yang menyalahkan orang-orang etnis Shona dalam tim mereka setelah kekalahan dari Dynamos dan dibalas oleh para pendukung Dynamos F.C. dalam salah satu komen. “One comment read, mandevere agara njere dzawo ishoma (Ndebeles always have no brains), they can’t stomach a defeat and blame Shona players, why did they hire them in the 1st place?” 

Mahasiswa S3, pelatih basket, dan pecinta sepakbola paruh waktu. bisa dihubungi lewat akun twitter di @Ngandre_