Fri. May 7th, 2021

Iglesia Maradoniana: Antara Sepakbola, Agama, dan Karisma Diego Maradona

Kredit foto : Empire

Oleh : Andre Satrya

marjinbola.com I’m here, and I’m staying here. In the same sky where Diego was born. I’ll always be a crazy Argentinian, a fan of diego and a fan of our wine.”


Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar nama Diego Maradona?  Legenda sepakbola dunia, tokoh kontroversial, gol tangan tuhan atau pelatih yang gagal membawa Argentina berjaya di Piala dunia Afrika Selatan tahun 2010? Mungkin banyak dari kita yang lebih mengenal sosok Maradona sebagai legenda sepakbola Argentina yang pernah melakukan aksi “gol tangan tuhan” di ajang Piala dunia tahun 1986, Mexico.

Tapi tahukah anda betapa berpengaruhnya aksi gol tangan tuhan dari Maradona tersebut sehingga bagi sebagian masyarakat Argentina ia adalah benar-benar dianggap sebagai tuhan? Ya, bagi para umat Iglesia Maradoniana (The Church of Maradona; Gereja Maradona) di kota Rosario, Argentina. Diego Armando Maradona mungkin menjadi satu- satunya pesepakbola atau atlet yang dianggap suci oleh sebagian kelompok masyarakat serta diposisikan layaknya tuhan yang harus dipuja dan disembah secara rutin setiap minggunya

Iglesia Maradoniana dibentuk pada tanggal 30 Oktober 1998 di kota Rosario, Argentina. Tanggal 30 Oktober sendiri bertepatan dengan hari lahirnya “tuhan” mereka, Diego Maradona. Bagi kurang lebih 80.000 umat Iglesia Maradoniana, ia bukan hanya pahlawan bagi mereka melainkan juga Tuhan Hal tersebut diyakini kedua pendirinya yaitu Hernán Amez dan Alejandro Verón.  Mereka berdua mengungkapkan dalam salah satu wawancara dengan Vice bahwa Iglesia Maradoniana hadir dan dibentuk melalui logika sederhana: “Bagi orang Argentina Sepakbola adalah agama, setiap agama memiliki tuhan dan tuhan dari sepakbola adalah Diego (Maradona).

Layaknya sebuah agama sungguhan, ada ritual-ritual khusus yang dilakukan oleh para umat Iglesia Maradoniana dalam menjalankan kepercayaan ini. Salah satunya setiap umat Iglesia Maradoniana harus mengamalkan “Ten commandements” (sepuluh perintah) yang tentunya kesepuluh perintah berpusat dan pada sosok Diego Maradona, seperti perintah ketiga: “Declare unconditional love for Diego and the beauty of football” atau perintah ke-10: “Name your first son Diego”.

Selain kesepuluh perintah tersebut, proses pembaptisan anggota baru serta perayaan hari lahir Diego Maradona pada 30 Oktober menjadi pesta perayaan dan ritual layaknya hari natal umat Kristiani yang merayakan hari Lahir Yesus Kristus. Maradona’s Christmas, begitu sebutan hari yang dirayakan dengan ritual bersulang dan menyantap pizza Neapolitan (pizza khas Italia) sebagai bentuk tribute kepada sejarah kesuksesan Maradona di klub sepakbola Napoli, Italia.

Para umat Iglesia Maradoniana juga tidak terlepas dari simbol neo-tetragammaton (kata dalam empat huruf): D10S, gabungan kata dari inisial nama Maradona, nomor punggung 10 yang kerap digunakan Maradona, dan Dios (dalam bahasa Spanyol Dios berarti tuhan).

Efek Karisma Diego Maradona

Hadirnya Iglesia Maradoniana merupakan fenomena olahraga dan sosial yang jarang terjadi. Secara sosiologis, pengultusan terhadap Diego Maradona merupakan bentuk ekspresi insting religius sebagian masyarakat Argentina. Dimana Insting religius merupakan hasil ekspresi spontan seseorang dalam hal kepercayaan baik yang sifatnya rasional maupun tidak.

Pengidolaan terhadap aksi-aksi memukau Maradona di lapangan hijau khususnya pada gelaran Piala dunia Meksiko tahun 1986 yang awalnya (mungkin) biasa saja lambat laun berubah menjadi pemujaan ekstrim hingga terjadilah proses sinkretisme (perpaduan beberapa aliran kepercayaan) yang melahirkan kepercayaan seperti Iglesia Maradoniana.

Apa yang diperlihatkan seorang Diego Maradona di dalam Lapangan hijau selama ia aktif bermain dapat dikatakakan sebagai bentuk paling nyata dan jujur dari sosoknya. Hal ini menimbulkan bukan hanya simpati, melainkan juga kepercayaan terhadap sosok Maradona yang dianggap memiliki kemampuan yang lebih daripada individu pada umumnya.

Proses dimana kepercayaan dari seseorang dan sekelompok orang inilah dapat dikategorikan sebagai efek Karismatik. Selalu ada efek magnetik yang dirasakan orang-orang yang terpengaruh dalam efek karismatik seseorang. sehingga bukanlah hal yang aneh jika seorang Diego Maradona dipuja-puja bak Tuhan dan penyelamat sepakbola bagi sebagian Masyarakat Argentina, khususnya bagi para umat Iglesia Maradoniana.

Kurang lebih sudah 32 Tahun sejak kesuksesan Tim Nasional Argentina pada perhelatan Piala Dunia Meksiko tahun 1986 dan efek karismatik itu masih terasa hingga saat ini serta menjadi salah satu momen paling membanggakan bagi para umat Iglesia Maradoniana.

Eksistensi Iglesia Maradoniana ini menjadi kasus yang unik karena beberapa dari mereka tidak semata-mata meninggalkan kepercayaan yang telah mereka anut sebelumnya, hal ini dikemukakan oleh Alejandro Verón dalam sebuah wawancara: “I have a rational religion, and that’s Catholic Church, and I have a religion passed on my heart, passion, and that’s Diego Maradona”.

Dari ungkapan tersebut kita dapat melihat bahwa gairah dan kecintaan para fans Diego Maradona terhadap Maradonalah yang membuat mereka melahirkan kepercayaan Iglesia Maradoniana. Dan kecintaan mereka benar-benar tulus dan nyata diekspresikan lewat segala ritual berkenaan dengan pemujaan atau pengidolaan terhadap Maradona.

Terlepas dari segala kontroversi yang dilakukan oleh Maradona beberapa tahun terakhir (dari kasus penyalahgunaan Kokain hingga kegagalannya sebagai pelatih Tim Nasional Argentina di Piala Dunia 2010) tidak serta merta membuat kecintaan serta kesetiaan para umat Iglesia Maradoniana meluntur. Mereka tidak takut akan hilangnya generasi penerus Iglesia Maradoniana. Bagi para umat Iglesia Maradoniana ada anggapan bahwa “jika satu fans mati, maka ribuan fans lainnya akan lahir”.

Poin penting dari kehadiran aliran kepercayaan seperti Iglesia Maradoniana ini adalah kita dapat melihat bagaimana olahraga sepakbola begitu berpengaruh bagi sekelompok masyarakat di negara tertentu, terlepas dari bagaimanapun cara masyarakat tersebut mengekspresikan hasil dari pengaruh olahraga sepakbola.

Memang, bahasan mengenai sisi lain si kulit bundar itu tidak akan pernah ada habisnya

*Penulis Merupakan Mahasiswa S3 Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia yang juga aktif sebagai asisten pelatih tim bola basket Universitas Indonesia